
Bayangkan seorang perempuan lahir di akhir abad ke-19, dari keluarga bangsawan, yang kalau ikut adat saat itu mestinya hidup nyaman… justru memilih jalan yang penuh risiko demi kemerdekaan bangsanya. Itulah kisah Opu Daeng Risaju — bukan sekadar pahlawan lokal, tapi tokoh penting dalam perlawanan politik terhadap penjajahan di Tanah Luwu dan Sulawesi Selatan yang jejaknya mulai diteliti akademis.
🧬 Dari Famajjah ke Opu Daeng Risaju — Bukan Cuma Nama Keren 💪
Opu Daeng Risaju lahir dengan nama Famajjah di Palopo pada tahun 1880. Ia berasal dari keluarga bangsawan di Kerajaan Luwu: ayahnya Muhammad Abdullah To Bareseng dan ibunya Opu Daeng Mawellu, yang merupakan cicit seorang raja Bone abad ke-18.
👉 Di sini menariknya:
Walaupun punya status sosial tinggi, Famajjah tidak mengikuti pendidikan formal Barat — sebuah tanda bahwa sistem pendidikan kolonial pada masa itu memang eksklusif dan diskriminatif terhadap perempuan pribumi. Namun justru karena itu, ia mendalami pendidikan agama Islam secara intensif sejak kecil, termasuk menghafal Qur’an dan belajar ilmu agama yang kompleks.
Setelah menikah dengan ulama H. Muhammad Daud, ia mendapat gelar Opu Daeng Risaju — gelar kebangsawanan yang memberi legitimasi sosial tinggi di masyarakat Luwu.
🗳️ Dari Keluarga Bangsawan ke Aktivis Politik
Ini bagian yang bikin kisahnya relevan banget buat Gen Z & milenial sekarang yang peduli terhadap politik dan perubahan sosial:
✨ Di era 1920-an, kolonialisme Belanda makin kuat menekan wilayah Nusantara — termasuk Luwu dan Sulawesi Selatan. Opu Daeng Risaju tidak tinggal diam. Dengan menggunakan jejaring sosial, pengaruh budaya, dan orasi, ia aktif di Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang kala itu adalah salah satu wadah perlawanan politik terhadap kekuasaan kolonial.
📍 Pada 14 Januari 1930, ia berhasil mendirikan cabang PSII di Palopo dan dipercaya menjadi ketua partai lokal tersebut. Peran ini memperlihatkan bahwa suara perempuan bukan hanya simbolik — tapi strategis dalam mobilisasi rakyat.
🚨 Ditangkap & Dijadikan Ancaman Kolonial — Karena Berani Bersuara
Karena aktivitasnya yang menyuarakan perlawanan politik, Opu Daeng Risaju dianggap “ancaman serius” oleh pemerintah kolonial Belanda. Ia ditangkap bersama puluhan anggota PSII, dituding menyebarkan kebencian terhadap pemerintah kolonial, dan dipenjara—pertama selama 13 bulan.
Lebih tragis lagi, menurut beberapa narasi dokumenter dan wawancara sejarah, ia bahkan mengalami tindakan kekerasan yang menyebabkan tuli seumur hidup, sebuah peristiwa yang menggambarkan betapa represifnya kekuasaan kolonial terhadap suara rakyat yang berani.
🧠 Perempuan Bangsawan yang “Merendah” Demi Rakyat
Hal unik yang sering diabaikan dalam buku sejarah mainstream:
💡 Gelar bangsawan Opu Daeng Risaju sempat dicabut oleh Dewan Adat karena aktivitas politiknya dianggap melanggar norma adat yang pro-kolonial saat itu. Kendati begitu, rakyat tetap memanggilnya “Opu” — sebuah bukti bahwa legitimasi sosial sejati bukan datang dari gelar, tetapi dari kepercayaan masyarakat yang dipengaruhinya.
🕊️ Akhir Perjuangan, Pengakuan Formal, dan Warisan
Opu Daeng Risaju menghembuskan napas terakhir pada 10 Februari 1964 di usia 84 tahun di Palopo. Meski semasa hidupnya tidak mendapatkan pemakaman kehormatan layaknya pejuang lain, perjuangannya tak hilang begitu saja.
📜 Pada 3 November 2006, pemerintah Indonesia menobatkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui keputusan presiden — sebuah pengakuan formal atas kontribusinya dalam membangun kesadaran kemerdekaan politik di Sulawesi.
🔥 Kenapa Kisahnya Epic Buat Milenial & Gen Z?
✨ Cerita Opu Daeng Risaju bukan sekadar sejarah — itu adalah narasi tentang seorang perempuan yang menggunakan pengaruh sosial, wawasan agama, dan jaringan politik untuk menantang struktur kekuasaan yang kuat.
✨ Ia bukan pejuang perang fisik dengan pedang — ia adalah pejuang politik, ide, dan inspirasi.
✨ Kisahnya memberi pelajaran bahwa kekuatan bukan hanya soal gender atau posisi sosial, tapi tentang keberanian untuk berbicara dan mengorganisir.
📌 Kesimpulan
➡️ Opu Daeng Risaju adalah contoh konkret bahwa perempuan Indonesia sudah berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan jauh sebelum era modern — bahkan ketika banyak pihak meremehkan suara perempuan.
➡️ Perjuangannya dipenuhi konflik sosial, politik, tekanan adat, hingga kekerasan kolonial — namun ia tetap gigih mempertahankan prinsipnya.
➡️ Cerita hidupnya cocok jadi inspirasi untuk generasi muda yang ingin memahami sejarah melalui cerita manusia di balik fakta, bukan sekadar angka dan tanggal.
