
Banyak konflik di Timur Tengah sering disederhanakan menjadi satu kalimat pendek:
“itu konflik Sunni dan Syiah.”
Padahal sejarahnya jauh lebih panjang, lebih rumit, dan lebih manusiawi daripada sekadar label pertentangan.
Bahkan, sebagian besar umat Islam di dunia sebenarnya hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar mempersoalkan apakah seseorang Sunni atau Syiah.
Lalu kenapa isu ini terus muncul?
Awalnya Bukan Soal Mazhab, Tapi Politik Kepemimpinan
Perbedaan Sunni dan Syiah bermula setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M.
Pertanyaan besar saat itu sederhana:
siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan umat Islam?
Sebagian sahabat mendukung Abu Bakar sebagai khalifah pertama melalui musyawarah. Kelompok inilah yang kemudian menjadi fondasi tradisi Sunni.
Sementara sebagian lain meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib—sepupu sekaligus menantu Nabi—lebih berhak memimpin karena kedekatan keluarga dan kapasitas spiritualnya. Dari sinilah akar tradisi Syiah berkembang.
Jadi pada awalnya, ini bukan perbedaan akidah besar seperti yang sering dibayangkan hari ini.
Ia lebih dekat dengan persoalan politik dan suksesi.
Peristiwa Karbala: Luka Sejarah yang Membentuk Identitas
Salah satu titik paling penting dalam sejarah Syiah adalah Pertempuran Karbala.
Di peristiwa itu, Husain bin Ali—cucu Nabi Muhammad—beserta pengikutnya terbunuh.
Bagi komunitas Syiah, Karbala bukan sekadar tragedi sejarah.
Ia menjadi simbol perjuangan melawan ketidakadilan.
Karena itu, banyak tradisi Syiah dipenuhi nuansa penghormatan dan duka terhadap keluarga Nabi.
Sementara dalam tradisi Sunni, penghormatan kepada keluarga Nabi juga ada, tetapi tidak berkembang menjadi ritual yang sama.
Perbedaan yang Ada, Persamaan yang Jauh Lebih Besar
Dalam praktik ibadah memang ada beberapa perbedaan:
- cara salat
- posisi tangan
- tradisi peringatan tertentu
- hingga struktur kepemimpinan ulama
Namun di luar itu, Sunni dan Syiah memiliki fondasi yang sama:
- percaya kepada Allah
- mengimani Al-Qur’an
- meyakini Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir
- menjalankan rukun Islam
Artinya, persamaan mereka jauh lebih besar dibanding perbedaannya.
Kenapa Konfliknya Terlihat Besar?
Masalahnya, dalam sejarah modern, identitas Sunni dan Syiah sering dipakai dalam konflik politik.
Di beberapa negara Timur Tengah, perbedaan mazhab bercampur dengan:
- perebutan kekuasaan
- geopolitik
- ekonomi minyak
- hingga kepentingan global
Akibatnya, konflik politik sering dibungkus seolah-olah murni konflik agama.
Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks.
Media Sosial dan Penyederhanaan yang Berbahaya
Hari ini, masalahnya bertambah.
Media sosial membuat banyak orang belajar agama lewat potongan video 30 detik.
Akibatnya, sejarah panjang disederhanakan menjadi kebencian singkat.
Label menjadi mudah:
“ini Sunni.”
“itu Syiah.”
Lalu percakapan berhenti sebelum benar-benar memahami.
Padahal para ulama besar dalam sejarah Islam justru banyak mengajarkan adab berbeda pendapat.
Bagaimana Sikap Umat Islam Hari Ini?
Di sinilah tantangan terbesar umat Islam modern.
Apakah perbedaan akan terus dijadikan alasan permusuhan?
Ataukah menjadi ruang untuk belajar memahami sejarah secara dewasa?
Banyak cendekiawan Muslim hari ini menekankan pentingnya:
- dialog
- literasi sejarah
- dan menghindari ujaran kebencian sektarian
Karena pada akhirnya, dunia Islam saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih besar:
- kemiskinan
- pendidikan
- ketimpangan sosial
- perang
- hingga perubahan teknologi
Dan semua itu tidak akan selesai hanya dengan saling menyalahkan mazhab.
Indonesia: Contoh Ruang Hidup Bersama
Indonesia punya pengalaman yang relatif berbeda.
Mayoritas Muslim Indonesia memang Sunni, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, banyak masyarakat lebih menekankan persaudaraan dibanding identitas mazhab.
Tradisi Islam Nusantara sejak lama mengenal dialog budaya, moderasi, dan toleransi sosial.
Tentu perdebatan tetap ada.
Namun ruang hidup bersama jauh lebih penting daripada memperbesar konflik yang bahkan tidak dipahami akar sejarahnya.
Penutup: Jangan Mewarisi Kebencian Tanpa Memahami Sejarah
Mungkin problem terbesar hari ini bukan perbedaannya.
Tapi cara kita memandang perbedaan itu.
Karena sering kali, orang mewarisi kebencian tanpa pernah benar-benar mempelajari sejarahnya.
Padahal sejarah Islam sendiri penuh dengan tradisi ilmu, dialog, dan perdebatan intelektual.
Dan mungkin, yang paling dibutuhkan umat Islam hari ini bukan sekadar merasa paling benar—
tetapi belajar bagaimana tetap menghormati sesama Muslim di tengah perbedaan.
Sebab di dunia yang makin mudah terpecah,
persaudaraan sering kali jauh lebih sulit dijaga daripada perdebatan.
