
Ada satu lowongan kerja yang hampir tidak pernah benar-benar hilang dari internet.
Coba saja buka LinkedIn, JobStreet, atau grup WhatsApp keluarga yang isinya lebih ramai lowongan daripada doa pagi.
Hampir selalu ada tulisan:
“Dicari Sales Executive.”
“Marketing dibutuhkan segera.”
“Account Executive berpengalaman lebih disukai.”
Kadang saya berpikir, jangan-jangan Indonesia ini bukan negara agraris lagi.
Tapi negara sales.
Profesi yang Selalu Dicari
Ada alasan kenapa posisi sales, marketing, dan account executive hampir selalu dibutuhkan.
Karena sesederhana ini:
perusahaan boleh punya produk bagus, kantor bagus, bahkan kopi gratis di pantry—
tapi kalau tidak ada yang menjual, ya selesai.
Dalam dunia bisnis, ujung tombaknya tetap satu:
penjualan.
Makanya, di banyak industri:
- telekomunikasi
- perbankan
- otomotif
- properti
- startup digital
- hingga skincare yang namanya tiga kata dan semuanya bahasa Korea
…semua butuh sales.
Ekonomi digital Indonesia yang terus tumbuh juga membuat kebutuhan tenaga pemasaran makin besar. Pertumbuhan perdagangan dan bisnis digital mendorong perusahaan terus mencari orang yang bisa menjangkau pasar dan mendatangkan pelanggan baru.
Kenapa Turn Over-nya Tinggi?
Nah, ini menarik.
Sales adalah profesi yang paling cepat merekrut orang—
dan kadang paling cepat ditinggalkan.
Hari ini masuk.
Besok sudah menghilang seperti mantan yang berkata,
“aku cuma mau fokus ke diri sendiri.”
Penyebabnya macam-macam.
1. Target
Target sales itu unik.
Kalau tercapai:
“ayo ditingkatkan.”
Kalau tidak tercapai:
“ayo dievaluasi.”
Jadi hidup sales itu sebenarnya mirip sinetron:
selalu ada tekanan di setiap episode.
2. Mental
Tidak semua orang tahan ditolak.
Padahal dalam dunia sales, penolakan itu menu harian.
Ditolak pelanggan.
Ditolak calon klien.
Kadang ditolak satpam sebelum masuk kantor.
Dan hebatnya, besok harus datang lagi sambil tersenyum.
3. Ekspektasi vs Realita
Banyak iklan lowongan menulis:
“gaji tak terbatas.”
Padahal yang tidak terbatas kadang cuma targetnya.
Tapi Kenapa Tetap Banyak yang Mau?
Karena profesi ini juga menawarkan sesuatu yang tidak selalu diberikan pekerjaan lain:
kesempatan naik cepat.
Ada sales yang awalnya hanya keliling menawarkan produk, lalu beberapa tahun kemudian sudah jadi branch manager.
Kenapa?
Karena bisnis menyukai orang yang bisa menghasilkan uang.
Sederhana.
Gaji: Bisa Biasa, Bisa Luar Biasa
Di dunia sales, gaji sering terdiri dari:
- gaji pokok
- insentif
- bonus
- komisi
Dan di sinilah letak adrenalinnya.
Ada sales yang gajinya biasa saja.
Tapi komisinya bisa membuat tetangga mendadak ramah.
Karena itu profesi ini sering melahirkan dua tipe manusia:
- yang cepat kaya
- yang cepat lelah
Kadang orangnya sama.
Hanya beda hari.
Sales di Era Digital
Dulu sales identik dengan:
sepatu pantofel, map proposal, dan wajah penuh harapan.
Sekarang?
Banyak sales bekerja lewat:
- TikTok
- sampai live streaming
Marketing tidak lagi sekadar bicara.
Tapi juga membuat konten.
Karena pelanggan hari ini tidak suka dijualin.
Mereka lebih suka merasa menemukan sendiri.
Makanya banyak perusahaan mulai serius di digital marketing karena strategi pemasaran terbukti memengaruhi omzet penjualan dan pertumbuhan bisnis.
Suka dan Dukanya
Sukanya:
- bertemu banyak orang
- jaringan luas
- peluang karir cepat
- penghasilan bisa besar
Dukanya:
- target
- tekanan
- jam kerja yang sering “fleksibel sekali”
- dan kalimat:
“Bulan ini closing berapa?”
Kalimat itu lebih menegangkan daripada:
“kita perlu bicara.”
Profesi yang Mengajarkan Kehidupan
Meski sering dipandang sebelah mata, profesi sales sebenarnya mengajarkan banyak hal:
- cara berbicara
- cara membaca orang
- cara bertahan setelah ditolak
Karena dalam hidup, tidak semua pintu langsung terbuka.
Kadang kita harus mengetuk berkali-kali.
Dan sales tahu persis rasanya.
Penutup: Mereka Menjual Produk, Sekaligus Harapan
Mungkin itu sebabnya profesi ini tidak pernah mati.
Karena selama bisnis masih ada, selama orang masih membeli sesuatu,
maka selalu akan ada seseorang yang menawarkan.
Dengan senyum yang kadang tulus, kadang lelah.
Tapi tetap mencoba.
Sebab di balik setiap closing,
ada cicilan yang menunggu dibayar.
