
Beberapa tahun lalu, petshop identik dengan kota besar. Jakarta, Surabaya, Makassar—tempat di mana gaya hidup urban bertemu dengan tren memelihara hewan sebagai bagian dari keluarga. Namun kini, peta itu berubah. Usaha petshop tak lagi eksklusif milik kota metropolitan. Ia bergerak perlahan tapi pasti, menembus kota kecil hingga kabupaten seperti Luwu.
Fenomena ini bukan kebetulan. Ia lahir dari kombinasi perubahan gaya hidup, kekuatan ekonomi lokal, dan cara generasi muda memaknai relasi dengan hewan peliharaan.
Hewan Peliharaan: Dari Penjaga Rumah Menjadi Anggota Keluarga
Data nasional menunjukkan bahwa jumlah pemilik hewan peliharaan di Indonesia terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Anjing dan kucing bukan lagi sekadar penjaga rumah atau pengusir tikus. Mereka diberi nama, dirawat kesehatannya, bahkan dirayakan ulang tahunnya.
Fenomena ini dikenal sebagai pet humanization—sebuah tren global yang kini mengakar kuat di Indonesia, terutama di kalangan Gen Z dan milenial. Generasi ini tumbuh dengan nilai empati, self-care, dan keseimbangan hidup. Hewan peliharaan menjadi bagian dari itu: teman, pelipur stres, bahkan “emotional support” di tengah tekanan hidup modern.
Ketika cara memandang hewan berubah, kebutuhan pun ikut naik. Makanan khusus, vitamin, grooming, hingga layanan kesehatan bukan lagi barang mewah—melainkan kebutuhan.
Dari Makassar ke Luwu: Efek Domino Ekonomi dan Digitalisasi
Makassar sebagai kota besar di Sulawesi Selatan menjadi titik awal berkembangnya bisnis petshop modern di kawasan timur Indonesia. Namun dampaknya tidak berhenti di kota.
Akses media sosial, marketplace, dan konten digital membuat standar perawatan hewan menjadi seragam secara budaya, meski berbeda secara geografis. Anak muda di Luwu bisa melihat rutinitas grooming kucing ras di TikTok, atau rekomendasi makanan anjing premium di Instagram—sama seperti mereka yang tinggal di kota besar.
Di sinilah peluang muncul. Pelaku usaha lokal membaca perubahan ini. Mereka melihat bahwa:
- jumlah pemelihara hewan meningkat,
- daya beli masyarakat lokal tumbuh,
- dan kebutuhan hewan belum sepenuhnya terlayani.
Petshop di kabupaten pun lahir—awalnya sederhana, lalu berkembang. Menjual pakan, aksesori, jasa grooming, hingga menjadi pusat komunitas kecil bagi para pet lovers lokal.
Petshop Bukan Sekadar Toko, tapi Ruang Sosial Baru
Menariknya, di daerah seperti Luwu, petshop sering kali punya fungsi sosial yang lebih kuat dibanding kota besar. Ia menjadi:
- tempat bertukar informasi soal perawatan hewan,
- ruang diskusi antar pemilik hewan,
- bahkan titik awal edukasi tentang kesejahteraan hewan.
Ini penting, karena pertumbuhan bisnis yang sehat seharusnya berjalan beriringan dengan kesadaran etis. Di banyak daerah, petshop justru menjadi jembatan antara pengetahuan medis hewan dan masyarakat umum.
Tantangan: Bertumbuh Tanpa Kehilangan Arah
Namun, menjamurnya petshop juga membawa tantangan. Persaingan meningkat, standar layanan belum merata, dan risiko menjadikan hewan semata sebagai komoditas selalu ada.
Di sinilah peran generasi muda kembali penting. Gen Z dan milenial bukan hanya konsumen, tapi juga penentu arah. Mereka cenderung memilih usaha yang:
- transparan,
- peduli pada kesejahteraan hewan,
- ramah lingkungan,
- dan punya nilai, bukan sekadar jualan.
Petshop yang bertahan ke depan bukan yang paling besar, tapi yang paling relevan dengan nilai zaman.
Penutup: Sebuah Cermin Perubahan Sosial
Berkembangnya usaha petshop dari kota besar hingga kabupaten seperti Luwu bukan sekadar cerita bisnis. Ia adalah cermin perubahan sosial. Tentang bagaimana masyarakat Indonesia—khususnya generasi muda—belajar merawat, bukan sekadar memiliki.
Jika dikelola dengan etika, inovasi, dan empati, petshop bisa menjadi simbol ekonomi lokal yang modern, inklusif, dan berkelanjutan. Dari kota hingga kabupaten, dari tren hingga kesadaran—perjalanan ini baru saja dimulai.