
Di Makassar, ada sesuatu yang berubah diam-diam. Bukan gedung tinggi, bukan pula jalan layang baru. Yang berubah justru cara orang-orang muda berkumpul—cara mereka mencari makna, mencari teman, dan mungkin, mencari diri sendiri.
Dulu, komunitas sering identik dengan hobi yang “keras”: motor, musik, atau olahraga ekstrem. Hari ini, anak muda Makassar justru berkumpul untuk hal-hal yang lebih sunyi—membaca buku, berjalan kaki, berdiskusi, bahkan sekadar duduk bersama tanpa tujuan yang terlalu jelas. Sunyi, tapi ramai. Sederhana, tapi terasa penting.
Kota yang Mulai Ramai oleh Percakapan Kecil
Ambil contoh Makassar Book Party. Komunitas ini lahir dari keresahan sederhana: membaca buku di ruang publik masih dianggap “sok intelektual”.
Alih-alih melawan stigma dengan seminar besar atau kampanye formal, mereka memilih cara yang lebih tenang—membaca bersama di ruang terbuka. Tikar digelar, buku dibuka, lalu orang-orang yang sebelumnya asing mulai saling bercerita.
Yang menarik, dalam satu pertemuan, peserta bisa mencapai puluhan hingga ratusan orang.
Bukan angka yang kecil untuk kegiatan yang “hanya membaca”.
Di sini, membaca tidak lagi aktivitas individual. Ia berubah menjadi peristiwa sosial.
Dari Stranger Jadi Circle
Fenomena yang sama bisa dilihat di Jalan Bareng Makassar.
Komunitas ini tidak menjual ide besar. Mereka hanya berjalan kaki. Tapi justru di situlah kekuatannya.
Berjalan bersama membuat orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal menjadi saling menyapa. Ada kehangatan yang muncul dari langkah-langkah sederhana itu.
Di kota yang semakin padat dan cepat, berjalan kaki menjadi semacam jeda. Sebuah cara untuk kembali merasakan kota—dan sesama manusia—secara lebih pelan.
Buku Sebagai Pintu Masuk, Bukan Tujuan Akhir
Komunitas seperti Diskusi Buku Bareng dan The Book Club Makassar (TBC) menunjukkan bahwa buku hari ini bukan lagi tujuan akhir, melainkan pintu masuk.
Di Diskusi Buku Bareng, orang-orang datang dengan latar belakang berbeda. Mereka membawa buku, tapi pulang dengan cerita. Diskusi tidak selalu tentang isi buku, tapi juga tentang pengalaman hidup yang saling bersinggungan.
Sementara itu, The Book Club Makassar (TBC) menghadirkan suasana yang lebih cair. Ada diskusi, tentu saja. Tapi juga ada tawa, permainan, bahkan obrolan ringan yang kadang jauh dari buku itu sendiri.
Di sini, membaca bukan soal siapa paling banyak tahu. Tapi siapa yang mau berbagi.
Komunitas yang Tidak Lagi Menghakimi
Yang menarik dari komunitas-komunitas ini adalah sikapnya yang terbuka.
Tidak ada syarat “harus sudah baca sekian buku”, tidak ada tuntutan untuk selalu cerdas dalam berpendapat. Siapa saja boleh datang—baik yang baru mulai membaca, maupun yang sudah lama tenggelam dalam buku.
Makassar Book Party, Diskusi Buku Bareng, hingga The Book Club Makassar (TBC) sama-sama membangun ruang yang inklusif.
Ruang di mana orang tidak takut terlihat “tidak tahu”.
Dan mungkin, justru dari situlah percakapan yang jujur bisa lahir.
Media Sosial: Dari Pamer Jadi Penggerak
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari media sosial.
Apa yang dulu hanya aktivitas pribadi kini menjadi sesuatu yang bisa dibagikan. Orang memotret buku yang sedang dibaca, mengunggah suasana diskusi, atau membagikan momen berjalan bersama.
Dari sana, orang lain tertarik. Lalu datang. Lalu ikut.
Komunitas pun tumbuh.
Yang awalnya hanya konten, berubah menjadi pertemuan.
Yang awalnya hanya layar, berubah menjadi kehadiran.
Kenapa Sekarang?
Pertanyaannya: kenapa fenomena ini muncul sekarang?
Pertama, kejenuhan.
Anak muda mulai lelah dengan interaksi digital yang dangkal. Mereka ingin sesuatu yang lebih nyata.
Kedua, kebutuhan akan makna.
Komunitas seperti Makassar Book Party, Jalan Bareng Makassar, Diskusi Buku Bareng, dan The Book Club Makassar (TBC) menawarkan sesuatu yang sederhana tapi dalam: percakapan, refleksi, dan rasa memiliki.
Ketiga, keterbukaan.
Komunitas hari ini tidak lagi eksklusif. Mereka hadir sebagai ruang aman, bukan ruang kompetisi.
Kota yang Sedang Belajar Mendengarkan
Yang menarik, semua komunitas ini punya satu benang merah: mereka menciptakan ruang.
Bukan sekadar ruang berkumpul, tapi ruang untuk didengar.
Di tengah kota yang semakin bising, mereka menghadirkan percakapan kecil: tentang buku, tentang langkah kaki, tentang hidup sehari-hari.
Makassar hari ini bukan hanya kota yang bergerak cepat. Ia juga kota yang mulai belajar melambat—membaca satu halaman, berjalan satu kilometer, mendengar satu cerita.
Dan dari hal-hal kecil itu, lahir sesuatu yang besar:
rasa bahwa kita tidak sendirian.
