
Pendahuluan
Andi Jemma (dalam ejaan arsip kolonial dan dokumen negara sering ditulis Andi Djemma) merupakan tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dari Sulawesi Selatan. Ia adalah Datu (Raja) Luwu terakhir yang secara tegas menyatakan integrasi wilayah Luwu ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pasca-Proklamasi 1945. Peran Andi Jemma tidak hanya signifikan secara politik dan militer, tetapi juga secara kultural, karena ia memadukan kepemimpinan tradisional Bugis–Luwu dengan gagasan nasionalisme modern.
Kajian tentang Andi Jemma banyak ditemukan dalam buku sejarah lokal, biografi pahlawan nasional, penelitian sejarah perjuangan Sulawesi Selatan, serta arsip negara dan laporan militer Belanda (KNIL). Tokoh ini sering dibahas dalam konteks perlawanan terhadap kembalinya kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia Timur pada periode 1945–1947.
Latar Belakang Sosial dan Politik
Andi Jemma lahir di Palopo pada awal abad ke-20 dari keluarga bangsawan Kedatuan Luwu. Struktur sosial Luwu saat itu masih kuat dipengaruhi sistem kerajaan, namun sudah berada di bawah kontrol administratif kolonial Belanda. Pendidikan Andi Jemma tidak hanya diperoleh melalui sekolah kolonial, tetapi juga melalui sistem pendidikan istana yang menekankan etika kepemimpinan, hukum adat (ade’), dan nilai budaya Bugis seperti siri’ dan pesse.
Menurut penelitian sejarah lokal Sulawesi Selatan (Basri, 1995; Ahmadin, 2010), pengalaman hidup di bawah tekanan kolonial membentuk sikap politik Andi Jemma yang kritis terhadap Belanda. Ia menolak posisi bangsawan yang sekadar menjadi alat administrasi kolonial, dan justru memilih mengarahkan legitimasi tradisionalnya untuk kepentingan perjuangan rakyat.
Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan
Integrasi Luwu ke Republik Indonesia
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Andi Jemma secara terbuka menyatakan bahwa Kedatuan Luwu berdiri di belakang Republik Indonesia. Pernyataan ini memiliki bobot politik yang besar, karena pada saat itu Belanda berusaha membentuk negara-negara federal di Indonesia Timur.
Penelitian oleh sejarawan Indonesia Timur menunjukkan bahwa sikap Andi Jemma berbeda dengan sebagian elite kerajaan lain yang memilih berkompromi dengan Belanda. Keputusan politiknya memperkuat basis Republik di Sulawesi Selatan dan memberikan legitimasi lokal terhadap perjuangan nasional.
Konflik dengan Pemerintah Kolonial Belanda
Dalam arsip sejarah perjuangan Sulawesi Selatan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982), dicatat bahwa Andi Jemma mengeluarkan ultimatum kepada pihak Belanda agar meninggalkan wilayah Luwu. Penolakan Belanda atas ultimatum tersebut memicu konflik bersenjata.
Akibat aktivitas politik dan militernya, Andi Jemma ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke luar Sulawesi. Penahanan ini menunjukkan bahwa Belanda menganggap Andi Jemma sebagai ancaman serius terhadap upaya restorasi kekuasaan kolonial di Indonesia Timur.
Nilai Budaya dalam Kepemimpinan Andi Jemma
Sejumlah penelitian antropologi dan sejarah budaya Bugis-Luwu menekankan bahwa kepemimpinan Andi Jemma tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai lokal, antara lain:
- Siri’ (harga diri dan kehormatan),
- Pesse (empati dan solidaritas),
- Lempu’ (kejujuran),
- Getteng (keteguhan pendirian),
- Adele’ (keadilan).
Buku Andi Djemma: Mempertahankan Nilai Siri’ na Pesse dan Kemerdekaan (Pandanga’i Press, 2024) menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut menjadi dasar moral perlawanan Andi Jemma terhadap kolonialisme. Dalam perspektif ini, perjuangan Andi Jemma bukan hanya perjuangan politik, tetapi juga perjuangan mempertahankan martabat sosial masyarakat Luwu.
Pengakuan Negara dan Warisan Sejarah
Berdasarkan dokumen resmi pemerintah Republik Indonesia dan Keputusan Presiden, Andi Jemma dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2002. Pengakuan ini didasarkan pada:
- Konsistensi dukungannya terhadap Republik Indonesia,
- Perlawanan aktif terhadap kolonialisme Belanda,
- Pengaruhnya dalam menggerakkan rakyat Sulawesi Selatan.
Warisan Andi Jemma juga terlihat dalam penamaan institusi pendidikan, infrastruktur, dan ruang publik di Sulawesi Selatan, yang menunjukkan pengakuan kolektif atas jasanya dalam sejarah nasional.
Kesimpulan
Berdasarkan kajian buku sejarah, penelitian akademik, dan arsip resmi negara, Andi Jemma merupakan figur yang merepresentasikan transformasi kepemimpinan tradisional menuju nasionalisme Indonesia. Ia berhasil mengartikulasikan nilai budaya lokal sebagai dasar perjuangan melawan kolonialisme dan mempertahankan kedaulatan bangsa.
Dengan demikian, Andi Jemma tidak hanya layak dipahami sebagai pahlawan daerah, tetapi sebagai bagian integral dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia secara nasional.
