
Beberapa tahun lalu istilah job hopping ramai dibicarakan — karyawan mudah pindah kerja demi gaji lebih tinggi atau karier lebih cepat. Namun kini muncul fenomena sebaliknya: job hugging. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan pekerja yang memilih bertahan di perusahaan, bukan karena puas, tetapi karena takut menghadapi ketidakpastian di luar.
Mengapa orang “memeluk” pekerjaannya?
Ada beberapa alasan utama:
- Ekonomi global melambat. Laporan Bank of America Institute (2025) menunjukkan bahwa keuntungan pindah kerja semakin kecil; kenaikan gaji yang dulu bisa diperoleh lewat job hopping kini menyusut.
- Takut kehilangan stabilitas. Gelombang PHK di berbagai sektor membuat karyawan merasa lebih aman tetap di tempat lama.
- Kekhawatiran akan teknologi baru. Munculnya AI dan otomatisasi menambah keraguan untuk mengambil risiko pindah kerja.
Fakta di Indonesia
Data BPS (Februari 2025) mencatat tingkat pengangguran terbuka turun ke 4,76% dengan jumlah penduduk bekerja mencapai 145,77 juta orang. Sekilas ini kabar baik, tapi di lapangan banyak pekerja tetap memilih bertahan. Alasannya sederhana: walau lapangan kerja bertambah, peluang untuk benar-benar naik gaji atau meniti karier di tempat baru belum tentu lebih baik daripada risiko kehilangan stabilitas yang sudah ada.
Penelitian-penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa kepuasan kerja, dukungan organisasi, dan peluang pengembangan karier sangat berpengaruh pada niat karyawan untuk pindah. Ketika peluang eksternal melemah, orang cenderung bertahan — meskipun sebenarnya tidak puas.
Dampaknya
- Bagi pekerja: ada risiko stagnasi, merasa “terjebak”, dan kehilangan motivasi.
- Bagi perusahaan: turnover rendah memang terlihat positif, tapi bila karyawan bertahan hanya karena takut, produktivitas dan inovasi bisa mandek.
Apa yang bisa dilakukan?
- Perusahaan perlu membuka jalur pengembangan karier internal dan memberi kesempatan upskilling agar karyawan tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang.
- Pekerja bisa melakukan job crafting — mencari cara membuat pekerjaannya lebih bermakna — sambil tetap menyiapkan diri dengan keterampilan baru untuk masa depan.
Singkatnya, job hugging adalah tanda bahwa banyak pekerja di Indonesia (dan dunia) sedang memilih aman. Tantangannya, bagaimana mengubah “bertahan karena takut” menjadi “bertahan karena berkembang”.
