
Pendahuluan
Nama Kahar Muzakkar selalu memicu perdebatan dalam sejarah Indonesia. Bagi sebagian orang, ia adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan negara pada masa awal kemerdekaan. Bagi yang lain, ia dikenal sebagai tokoh pemberontakan yang memilih jalan kekerasan dan memisahkan diri dari Republik Indonesia. Artikel ini membahas perjuangan dan kontroversi Kahar Muzakkar berdasarkan arsip negara, akta militer, dan hasil penelitian sejarah, disajikan dengan gaya naratif yang relevan bagi Generasi Z dan Milenial—kritis, kontekstual, dan tidak hitam-putih.
Latar Belakang: Dari Pejuang Kemerdekaan ke Tokoh Oposisi
Kahar Muzakkar lahir di Luwu, Sulawesi Selatan, tahun 1921. Ia aktif dalam pergerakan pemuda dan laskar rakyat selama masa revolusi fisik (1945–1949). Dalam berbagai arsip TNI dan dokumen Kementerian Pertahanan, Kahar tercatat sebagai komandan laskar di Sulawesi yang berperan melawan Belanda.
Masalah mulai muncul setelah Indonesia merdeka secara de jure. Banyak laskar daerah, termasuk pasukan Kahar, tidak sepenuhnya diintegrasikan ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Berdasarkan risalah sidang militer dan laporan resmi tahun awal 1950-an, penolakan ini dipicu oleh:
- Perbedaan standar pendidikan militer
- Kekhawatiran negara terhadap loyalitas komando lokal
- Upaya sentralisasi kekuatan bersenjata oleh pemerintah pusat
Bagi Kahar dan pengikutnya, kebijakan ini dipandang sebagai pengkhianatan terhadap jasa pejuang daerah.
Konflik dengan Negara: Data dan Fakta Sejarah
Menurut akta-akta operasi militer TNI di Sulawesi Selatan (1951–1965), Kahar Muzakkar secara resmi menyatakan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Indonesia setelah negosiasi integrasi gagal.
Awalnya, tuntutannya bersifat struktural:
- Pengakuan laskar lokal sebagai bagian TNI
- Otonomi militer daerah
- Perlakuan setara bagi pejuang luar Jawa
Namun, dalam laporan intelijen dan penelitian akademik (termasuk kajian sejarah militer Universitas Indonesia dan Universitas Hasanuddin), terlihat adanya pergeseran ideologi yang signifikan.
Bergabung dengan DI/TII: Ideologi atau Strategi?
Pada tahun 1953, Kahar Muzakkar menyatakan bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Berdasarkan hasil penelitian sejarawan dan dokumen pengadilan militer, langkah ini bukan semata-mata religius, melainkan juga strategi politik dan militer.
Beberapa temuan penting penelitian:
- Ide negara Islam muncul setelah konflik struktural dengan negara, bukan sejak awal perjuangannya
- Basis dukungan Kahar bersifat lokal dan pragmatis, tidak homogen secara ideologis
- Islam digunakan sebagai simbol pemersatu dan legitimasi perlawanan
Ini menempatkan Kahar Muzakkar sebagai figur kompleks: antara idealis yang kecewa dan aktor politik bersenjata.
Kontroversi: Kekerasan, Sipil, dan Warisan Luka
Tak dapat disangkal, perjuangan Kahar Muzakkar meninggalkan luka mendalam. Berdasarkan laporan operasi keamanan dan kesaksian sipil yang dihimpun peneliti, terjadi:
- Kekerasan terhadap warga sipil
- Pemaksaan dukungan logistik
- Eksekusi terhadap pihak yang dianggap berseberangan
Negara juga melakukan operasi militer besar-besaran yang berdampak pada masyarakat desa. Artinya, konflik ini tidak bisa dipahami secara satu arah. Korban utama adalah rakyat sipil, terjepit antara negara dan pemberontakan.
Akhir Perjuangan dan Kematian
Menurut akta resmi TNI, Kahar Muzakkar tewas pada Februari 1965 dalam sebuah operasi militer di Sulawesi Tenggara. Hingga kini, detail pemakamannya masih menjadi bagian dari misteri sejarah, memperkuat mitos dan romantisasi sosoknya di sebagian masyarakat.
Membaca Kahar Muzakkar Hari Ini
Bagi Generasi Z dan Milenial, kisah Kahar Muzakkar relevan sebagai:
- Contoh bagaimana ketidakadilan struktural bisa melahirkan konflik ekstrem
- Bukti bahwa sejarah tidak selalu hitam-putih: pahlawan vs pengkhianat
- Pengingat pentingnya dialog, inklusivitas, dan keadilan dalam negara majemuk
Penelitian sejarah modern menekankan bahwa Kahar Muzakkar bukan sekadar pemberontak atau pahlawan, melainkan produk dari transisi negara yang belum matang.
Penutup
Membahas Kahar Muzakkar berarti membahas luka awal republik: sentralisasi, ketimpangan daerah, dan kegagalan merangkul semua pejuang. Dengan membaca sejarah berbasis data dan penelitian, generasi muda dapat belajar satu hal penting: ketika negara gagal mendengar, konflik sering kali berbicara dengan senjata.
Sejarah bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami—agar kesalahan yang sama tidak terulang.
