
Dunia akademik sedang memasuki sebuah lorong sunyi yang ganjil. Sunyi karena banyak pekerjaan intelektual kini bisa dilakukan mesin dalam hitungan detik; ganjil karena justru di saat itu kita semakin sering berbicara tentang “makna”, “orisinalitas”, dan “kejujuran ilmiah”.
Kecerdasan buatan—AI—telah menjelma dari sekadar alat bantu menjadi aktor yang ikut menentukan cara kita membaca, menulis, meneliti, bahkan berpikir. Mahasiswa menggunakannya untuk merangkum jurnal, dosen memanfaatkannya untuk menyusun silabus, peneliti memakainya untuk menyaring data. Semua sah, semua efisien. Tetapi justru di sanalah pertanyaan penting itu muncul: apa arti menjadi insan akademik di era ketika berpikir bisa diotomatisasi?
Fakta menunjukkan bahwa penggunaan AI di kampus meningkat drastis. Platform penulisan berbasis AI, alat analisis data otomatis, hingga sistem penilaian cerdas kini menjadi bagian dari keseharian akademik global. Ini bukan lagi wacana masa depan—ini realitas hari ini. Kampus yang menutup mata terhadapnya hanya akan tertinggal, sementara yang menerimanya tanpa kritik berisiko kehilangan jiwanya sendiri.
Akademik, pada dasarnya, bukan sekadar produksi teks dan angka. Ia adalah latihan kesabaran, keraguan, dan kejujuran intelektual. Di ruang kelas dan jurnal ilmiah, kita diajari untuk bertanya sebelum menjawab, untuk ragu sebelum menyimpulkan. AI, sebaliknya, bekerja dengan kecepatan dan kepastian. Ia tidak ragu. Ia tidak cemas. Ia tidak menanggung konsekuensi etis dari jawabannya.
Di sinilah benturan itu terjadi.
Jika AI mampu menulis esai yang rapi, menyusun argumen yang logis, bahkan meniru gaya pemikir tertentu, maka penilaian akademik berbasis hasil akhir menjadi rapuh. Nilai A atau B tidak lagi mencerminkan proses berpikir, melainkan kecakapan menggunakan alat. Maka masa depan dunia akademik tidak bisa lagi bertumpu pada produk, melainkan harus kembali menaruh hormat pada proses.
Beberapa universitas mulai menyadari hal ini. Penilaian lisan, diskusi reflektif, catatan proses riset, dan pengakuan penggunaan AI secara terbuka mulai dipraktikkan. Ini bukan kemunduran, melainkan upaya menyelamatkan esensi akademik: kejujuran dalam belajar.
Namun ada persoalan lain yang lebih sunyi, tapi tak kalah penting: ketimpangan. Akses terhadap AI tidak merata. Kampus dengan sumber daya besar akan melaju lebih cepat, sementara institusi kecil tertatih. Jika tidak diantisipasi, AI bisa memperlebar jurang pengetahuan, bukan menjembataninya. Dunia akademik yang seharusnya menjadi ruang kesetaraan justru berisiko menjadi arena kompetisi teknologi.
Di titik ini, kita perlu jujur mengakui: AI tidak akan pergi. Ia akan semakin canggih, semakin halus, semakin “manusiawi”. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita menolak atau menerima, melainkan bagaimana kita menjaga agar manusia tetap menjadi subjek, bukan pelengkap.
Masa depan dunia akademik mungkin akan tampak lebih sepi dari aktivitas manual, tetapi seharusnya lebih ramai oleh perenungan. Lebih sedikit pekerjaan mekanis, lebih banyak pertanyaan etis. Lebih sedikit hafalan, lebih banyak keberanian untuk bersikap.
Jika kampus hanya berubah menjadi pabrik keluaran teks cepat saji berbasis AI, maka ia kehilangan maknanya. Tetapi jika AI ditempatkan sebagai alat untuk membebaskan manusia dari kerja rutin agar bisa berpikir lebih dalam, lebih jujur, dan lebih bertanggung jawab, maka dunia akademik justru menemukan kembali martabatnya.
Di tengah algoritma yang terus belajar, barangkali tugas akademisi ke depan justru sederhana namun berat: tetap menjadi manusia yang mau berpikir pelan.
