
Kalau kamu pikir perempuan baru mulai masuk politik di era media sosial — kamu perlu kenal Salawati Daud. Jauh sebelum istilah women empowerment viral di Instagram, Salawati sudah duduk di kursi Wali Kota Makassar pada 1949, di tengah situasi politik yang kacau, transisi negara, dan dominasi laki-laki dalam pemerintahan.
Ia bukan hanya “perempuan pertama”, tapi perempuan yang berani mengambil peran di saat negara bahkan belum stabil.
Perempuan, Berani, dan Anti Diam
Salawati Daud lahir sekitar tahun 1909 dan mulai dikenal sebagai:
- aktivis perempuan
- jurnalis
- tokoh pergerakan kemerdekaan
Ia aktif menulis dan mengelola media lokal di Makassar. Pada masa itu, menulis adalah senjata politik. Lewat tulisan, Salawati menyuarakan kemerdekaan, kesetaraan, dan kritik terhadap kekuasaan kolonial.
📌 Fakta penting:
Penelitian sejarah menunjukkan bahwa pers perempuan di Indonesia Timur pada 1940-an menjadi alat perjuangan politik, dan Salawati adalah salah satu aktor utamanya.
Menjadi Wali Kota di Masa Negara Masih “Belum Jadi”
Salawati Daud menjabat sebagai Wali Kota Makassar dari Desember 1949 hingga 1950.
Ini bukan masa normal:
- Indonesia baru saja diakui kedaulatannya
- Sistem pemerintahan masih transisi dari kolonial ke republik
- Struktur kota belum stabil
- Konflik politik masih kuat
Namun di tengah kondisi itu, Salawati dipercaya memimpin kota besar di Indonesia Timur.
📊 Data sejarah pemerintahan Kota Makassar mencatat Salawati sebagai:
salah satu wali kota perempuan pertama di Indonesia pasca-kemerdekaan
Bukan sekadar simbol, tapi pemimpin aktif dalam proses penyerahan kekuasaan dan konsolidasi pemerintahan kota.
Bukan Politik Aman — Tapi Politik Berani
Yang membuat Salawati menarik untuk Gen Z hari ini adalah:
dia tidak memilih jalan aman.
Dalam catatan sejarah dan riset politik:
- Salawati dikenal dekat dengan kelompok progresif
- Ia berani berdialog dengan tokoh-tokoh kontroversial
- Setelah dari Makassar, ia aktif di politik nasional dan parlemen
Beberapa penelitian bahkan mencatat bahwa keberanian politiknya membuat ia:
- dikagumi oleh pendukungnya
- diawasi oleh lawan politik
- disingkirkan dari panggung kekuasaan di era berikutnya
💡 Ini mengingatkan kita pada banyak aktivis hari ini: berani bersuara = siap menerima risiko.
Kenapa Namanya Jarang Dibahas?
Banyak riset sejarah menyebutkan:
- sejarah perempuan sering tidak ditulis secara lengkap
- tokoh perempuan di luar Jawa kurang terdokumentasi
- arsip politik era 1950-an masih terbatas
Akibatnya, nama Salawati Daud lebih sering muncul di jurnal akademik daripada buku sejarah populer.
Padahal, kontribusinya nyata.
Kenapa Gen Z Perlu Tahu?
Karena Salawati Daud membuktikan bahwa:
- perempuan bisa memimpin bahkan di masa paling sulit
- politik bukan hanya milik elite
- suara yang berani memang tidak selalu populer, tapi penting
Di era sekarang, ketika Gen Z:
- aktif bicara soal keadilan
- kesetaraan gender
- representasi perempuan
Salawati Daud adalah contoh nyata bahwa perjuangan itu sudah dimulai sejak puluhan tahun lalu.
Penutup: Dari Makassar untuk Indonesia
Salawati Daud bukan sekadar “wali kota perempuan pertama”.
Ia adalah:
- simbol keberanian politik
- bukti bahwa perempuan selalu ada dalam sejarah bangsa
- pengingat bahwa perubahan sering dimulai oleh mereka yang berani berbeda
📍 Makassar pernah dipimpin oleh perempuan —
dan sejarah mencatatnya, meski tidak selalu viral.
