• Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kontak
Daritimur.com
  • Berita
  • Biografi
  • Life Style
  • Opini
  • Pendidikan
  • Sosial Politik
  • Agama dan Budaya
  • Info Loker Belopa
  • Berita
  • Biografi
  • Life Style
  • Opini
  • Pendidikan
  • Sosial Politik
  • Agama dan Budaya
  • Info Loker Belopa
No Result
View All Result
Daritimur.com
No Result
View All Result

Ali Khamenei dan Logika Perlawanan: Dari Teheran ke Medan Konflik Global

daritimur by daritimur
Februari 28, 2026
in Sosial Politik
0

Di Teheran, kekuasaan tidak selalu berbicara lewat podium. Ia sering berbisik lewat fatwa, bergerak lewat jaringan, dan mengendap dalam struktur yang tak mudah disentuh. Di pucuk struktur itu berdiri satu nama: Ali Khamenei.

Sejak 1989, ia bukan sekadar pemimpin tertinggi Iran. Ia adalah simpul dari ideologi, militer, dan arah geopolitik negeri itu. Dalam sistem Republik Islam, presiden boleh berganti, parlemen bisa berdebat, tetapi garis strategis besar—terutama soal Amerika Serikat dan Israel—ditentukan dari kantornya.

Gaya kepemimpinannya jarang meledak-ledak. Ia bukan orator revolusioner seperti pendahulunya, Ruhollah Khomeini. Namun justru dalam kesenyapan itulah, arah sejarah Iran dibentuk.

Dari Ulama ke Pengendali Negara

Khamenei lahir pada 1939 di Mashhad, tumbuh dalam tradisi ulama Syiah, dan ikut dalam pusaran Revolusi 1979 yang menjatuhkan Shah. Ia sempat menjadi presiden (1981–1989) sebelum naik menjadi Pemimpin Tertinggi menggantikan Khomeini.

Banyak pengamat Barat awalnya meragukan kapasitasnya. Dalam buku After Khomeini: Iran Under His Successors (Oxford University Press), Said Amir Arjomand menyebut bahwa legitimasi religius Khamenei pada awal masa jabatan tidak sekuat pendahulunya. Namun, justru dari titik itu ia membangun konsolidasi pelan tapi pasti: memperkuat aliansi dengan Garda Revolusi, memperluas pengaruh pada lembaga yudikatif, dan memastikan bahwa kebijakan strategis negara berada dalam orbitnya.

Penelitian di jurnal International Affairs (Royal Institute of International Affairs, London) menegaskan bahwa struktur Iran membuat Pemimpin Tertinggi menjadi aktor final dalam kebijakan keamanan nasional. Artinya, setiap langkah terkait Israel, Amerika, dan program nuklir—pada akhirnya—bermuara pada restunya.

Ideologi sebagai Infrastruktur Kekuasaan

Dalam berbagai pidato resminya, Khamenei kerap menyebut Amerika sebagai “musuh sistemik” dan Israel sebagai “rezim ilegal”. Bagi sebagian analis, retorika ini bukan sekadar propaganda domestik, melainkan bagian dari arsitektur legitimasi.

Vali Nasr dalam The Shia Revival (W.W. Norton, New York) menjelaskan bahwa identitas revolusioner Iran dibangun atas narasi perlawanan terhadap dominasi Barat. Dalam konteks ini, konflik dengan Amerika dan Israel bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga fondasi ideologis yang menopang stabilitas internal rezim.

Penelitian di Middle East Journal (Washington, DC) menunjukkan bahwa “poros perlawanan”—yang melibatkan Hezbollah di Lebanon dan dukungan terhadap Hamas di Gaza—adalah strategi asimetris Iran menghadapi superioritas militer Israel dan Amerika. Ini bukan perang frontal, melainkan perang bayangan: proksi, intelijen, siber, dan pengaruh regional.

Nuklir, Sanksi, dan Politik Tekanan

Titik balik penting terjadi ketika Amerika Serikat di bawah Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action pada 2018. Kebijakan “maximum pressure” memperketat sanksi ekonomi terhadap Iran.

Menurut kajian di The Washington Quarterly (Center for Strategic and International Studies), kebijakan ini justru memperkuat faksi garis keras di Teheran dan mempersempit ruang kompromi diplomatik. Dalam banyak analisis, Khamenei melihat pengalaman itu sebagai bukti bahwa Amerika tidak bisa dipercaya dalam perjanjian jangka panjang.

Hasilnya? Iran mempercepat pengayaan uranium, memperluas kemampuan drone dan rudal balistik, serta memperdalam kerja sama strategis dengan Rusia dan Tiongkok.

Eskalasi Terbaru: Dari Bayangan ke Konfrontasi

Konflik Iran–Israel selama bertahun-tahun bergerak dalam bayangan: serangan siber, sabotase fasilitas nuklir, dan serangan udara terbatas di Suriah. Namun dalam perkembangan terbaru, eskalasi meningkat drastis—ditandai dengan serangan langsung dan balasan terbuka antara kedua pihak, serta keterlibatan militer Amerika Serikat.

Dalam analisis yang terbit di Survival (IISS, London), para peneliti menyebut fase ini sebagai “dangerous overt phase”—fase ketika perang bayangan berubah menjadi konfrontasi terbuka. Risiko salah kalkulasi meningkat. Dan setiap keputusan strategis Iran, lagi-lagi, tak lepas dari posisi Khamenei sebagai penentu akhir.

Yang menarik, berbagai studi menilai bahwa meski tekanan eksternal meningkat, struktur kekuasaan Iran relatif tahan guncangan. Lembaga-lembaga kunci—Garda Revolusi, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, dan jaringan ekonomi semi-negara—telah lama disiapkan untuk menghadapi isolasi.

Antara Ketahanan dan Keterbatasan

Namun tidak berarti tanpa biaya. Ekonomi Iran terpukul sanksi. Inflasi tinggi, mata uang terdepresiasi, dan gelombang protes domestik beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya tekanan sosial yang nyata.

Dalam buku Iran’s Political Economy since the Revolution (Cambridge University Press), Suzanne Maloney menulis bahwa daya tahan rezim Iran bukan semata hasil represi, tetapi kombinasi ideologi, patronase ekonomi, dan kontrol keamanan. Khamenei memahami bahwa legitimasi tak cukup dibangun dari retorika; ia juga memerlukan stabilitas institusional.

Di sinilah paradoksnya: semakin keras tekanan luar, semakin kuat narasi perlawanan diproduksi di dalam.

Penutup: Seorang Pemimpin dalam Pusaran Sejarah

Ali Khamenei bukan tokoh yang mudah dibaca hitam-putih. Bagi pendukungnya, ia adalah penjaga revolusi dan simbol kedaulatan. Bagi para pengkritiknya, ia adalah arsitek sistem yang represif dan konfrontatif.

Tetapi satu hal sulit disangkal: selama lebih dari tiga dekade, ia berhasil menjaga kontinuitas Republik Islam di tengah perang, sanksi, dan tekanan global.

Konflik dengan Israel dan Amerika Serikat bukan sekadar episode geopolitik. Ia adalah bab lanjutan dari narasi panjang tentang identitas, kekuasaan, dan perlawanan. Dan selama Khamenei masih berada di pusat lingkaran kekuasaan itu, arah Iran akan terus bergerak dalam orbit yang sama—teguh, defensif, dan siap berhadapan dengan dunia yang dianggapnya tak pernah benar-benar bersahabat.

Previous Post

LOWONGAN KERJA PENJAGA BAYI

Next Post

LOWONGAN KERJA TOKO PUJI MART

daritimur

daritimur

Next Post

LOWONGAN KERJA TOKO PUJI MART

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kontak

Copyright © 2025 daritimur.com powered by PT. Green Website Indonesia

No Result
View All Result
  • Tentang
  • Redaksi
  • Berita
  • Biografi
  • Life Style
  • Opini
  • Pendidikan
  • Sosial Politik
  • Agama dan Budaya
  • Info Loker Belopa

Copyright © 2025 daritimur.com powered by PT. Green Website Indonesia