
Sebuah Pergeseran yang Tak Terlihat… Sampai Ia Menjadi Tren
Bayangkan sebuah kafe di Jakarta pada malam hari.
Sepuluh tahun lalu, meja-meja dipenuhi asap rokok kretek. Bau tembakau pekat, suara korek api, dan bungkus rokok berserakan.
Hari ini?
Pemandangannya berubah.
Anak muda duduk dengan laptop dan kopi, sesekali menghembuskan uap tipis dari vape. Tidak ada bara api. Tidak ada abu. Hanya aroma strawberry, mint, atau kopi.
Ini bukan sekadar perubahan cara merokok.
Ini adalah perubahan budaya konsumsi nikotin di Indonesia.
Indonesia: Negara Perokok Besar, Tapi Generasinya Sedang Bergeser
Mari mulai dari data.
Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia. Pada 2025 sekitar 28,68% masyarakat Indonesia masih mengonsumsi rokok tembakau, jauh lebih besar dibanding pengguna vape.
Namun di sisi lain, pengguna vape tumbuh sangat cepat dalam satu dekade terakhir.
- 2011: hanya sekitar 0,3% populasi
- 2021: meningkat menjadi lebih dari 3% populasi (sekitar 6 juta orang)
Jika dihitung secara industri, pasar vape di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 5 juta pengguna dengan nilai pasar sekitar Rp22,5 triliun pada 2025.
Angka ini memberi sinyal penting:
Industri nikotin sedang mengalami disrupsi model konsumsi.
Bukan berhenti merokok.
Tapi cara merokok yang berubah.
Kenapa Gen Z dan Milenial Memilih Vape?
Ada tiga alasan utama yang membuat vape cepat diterima generasi muda.
1. Lifestyle, bukan sekadar konsumsi
Jika rokok identik dengan kebiasaan, vape identik dengan gaya hidup.
Sekitar 44% pengguna vape di Indonesia berusia 18–29 tahun, yaitu kelompok Gen Z dan milenial muda.
Di media sosial, vape menjadi bagian dari identitas:
- nongkrong di coffee shop
- komunitas vape
- konten TikTok atau Instagram
- estetika gadget
Rokok adalah produk konsumsi.
Vape adalah produk lifestyle.
Ini mirip perubahan dari jam tangan ke smartwatch.
Fungsinya sama: menunjukkan waktu.
Tapi maknanya berbeda.
2. Variasi rasa dan pengalaman
Rokok punya rasa terbatas: tembakau.
Vape punya ratusan varian rasa.
Survei menunjukkan sekitar 70% pengguna vape memilihnya karena rasa yang lebih beragam, seperti buah, dessert, atau menthol.
Ini penting bagi Gen Z.
Generasi ini tumbuh dalam dunia personalization:
- playlist Spotify
- feed TikTok
- menu kopi custom
Vape menawarkan hal yang sama: custom experience.
3. Persepsi lebih “modern” dan “ringan”
Banyak pengguna berpindah karena menganggap vape lebih ringan dibanding rokok konvensional.
Namun para ahli kesehatan mengingatkan bahwa produk nikotin baru seperti vape tetap memiliki risiko kesehatan dan dapat menyebabkan ketergantungan.
Jadi pergeseran ini bukan berarti bebas risiko.
Tetapi bagi generasi muda, persepsi seringkali lebih kuat dari fakta.
Dari Warung Rokok ke Vape Shop: Peluang Bisnis Baru
Jika kita melihat dari perspektif bisnis, pergeseran ini melahirkan ekosistem industri baru.
Dalam beberapa tahun terakhir:
- vape shop tumbuh sekitar 35% per tahun di Indonesia
- pasar mencapai puluhan triliun rupiah
- investor global mulai masuk
Perusahaan besar bahkan mulai membangun fasilitas produksi produk nikotin alternatif di Indonesia.
Ini berarti satu hal:
Vape bukan sekadar tren anak muda.
Ia sudah menjadi industri baru.
Ekonomi Vape: Dari Device sampai Komunitas
Berbeda dengan rokok, vape menciptakan model bisnis yang lebih luas.
Ekosistemnya meliputi:
- Perangkat vape (device)
- liquid atau e-liquid
- aksesori dan mod
- vape lounge dan komunitas
- content creator dan reviewer
Dalam ekonomi digital, ini disebut:
experience-driven consumption.
Orang tidak hanya membeli produk.
Mereka membeli pengalaman dan identitas sosial.
Tapi Rokok Masih Sang Raja
Meskipun vape berkembang pesat, rokok konvensional masih mendominasi.
Dengan hampir 30% populasi masih merokok, pasar tembakau tetap sangat besar.
Rokok juga memiliki keunggulan struktural:
- distribusi sampai warung kecil
- budaya sosial yang kuat
- harga yang relatif terjangkau
Vape masih lebih banyak hadir di kota besar dan komunitas urban.
Artinya, untuk saat ini kita tidak melihat penggantian total.
Yang terjadi adalah koeksistensi dua generasi produk nikotin.
Masa Depan: Rokok akan Turun, Tapi Tidak Hilang
Jika melihat tren global, beberapa negara mulai mengalami perubahan dramatis.
Di Inggris misalnya, jumlah pengguna vape bahkan sudah melampaui jumlah perokok tembakau.
Apakah Indonesia akan menuju ke arah yang sama?
Kemungkinan iya, tetapi lebih lambat.
Kenapa?
Karena Indonesia memiliki:
- budaya merokok yang kuat
- industri tembakau besar
- struktur ekonomi yang bergantung pada sektor ini
Namun satu hal jelas:
Generasi baru mulai mengubah cara konsumsi.
Penutup: Dari Asap ke Uap
Jika kita melihatnya dengan kacamata bisnis dan budaya, fenomena vape bukan sekadar tren.
Ini adalah contoh klasik dari disrupsi gaya hidup.
Rokok adalah simbol generasi lama.
Vape adalah simbol generasi digital.
Yang satu dibakar.
Yang satu diuapkan.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah vape akan menggantikan rokok?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
Bagaimana industri tembakau beradaptasi dengan generasi yang berbeda?
Karena pada akhirnya, dalam dunia bisnis:
yang bertahan bukan yang paling kuat, tetapi yang paling cepat berubah.