
Oleh Abdullah Dari Timur ( Seorang Penulis Amatir )
Kuliner yang paling nikmat bukan yang paling mahal tetapi yang mengingatkan kita pada suatu hal, entah itu seseorang, tempat, kota, peristiwa dll. Masalah selera memang setiap orang itu beda-beda, ada yang suka yang manis, pahit, asin, asam, panas, dingin ataupun kombinasinya. Kebhinekaan dalam hal selera inilah yang akan memperkaya jenis kuliner itu sendiri. Di Indonesia setiap kota memiliki ragam kulinernya sendiri, ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan tergantung ketersediaan sumber makanan dan minuman yang ada yaitu hewan atau tumbuhan. Olahan hewan dan tumbuhan inilah yang akan menjadi makanan dan minuman yang bisa dikonsumsi.
Berbicara soal kuliner, ada satu kuliner yang terus terngiang-ngiang di pikiran saya selama 5 tahun ini, kuliner itu diberi nama Dimsum. Rasa dan nikmatnya ketika mencicipinya selalu saya rindukan. Dimsum ini pertama kali saya cicipi di tahun 2019, ketika masih menjadi budak korporat di Jakarta, Ibu Kota Negara, sekarang masih Ibu Kota atau bukan yah ?, ( Ya Gak Tahu, Kok Tanya Saya ? hehe). Istilah kerennya karyawan padahal buruh jg, kondisi kerjaan saya waktu itu bisa dibilang gabut, Gak ngapa-ngapain, karena maklum saya dan beberapa orang masih dalam proses training, katanya kami dipersiapkan untuk menjadi pemimpin perusahaan di masa depan. Apakah itu benar atau tidak ? ( Ya Gak Tahu, Kok Tanya Saya ? hehe). Sewaktu OJT ( On The Job Training ), OJT itu katanya kita belajar praktek kerja-lah di departemen tertentu dalam perusahaan, padahal sebenarnya gabut juga, tapi inilah privilese calon pemimpin perusahaan, wkwkwk.
Suatu ketika saat menikmati kegabutan, saya sedang duduk di depan meja kantor, seorang bapak yang juga karyawan langsung nyamperin dan menawarkan ” Lu Mau Dimsum Gak ? ” , saya yang berasal dari daerah yang jauh disana, gak tahu apa-apa langsung mengiyakan saja ” Iya pak “. Beliau melanjutkan ” Ayam atau Udang atau Campur ? “ kayaknya saya jawab waktu itu ” Campur Pak “. Bukan karena mau tetapi karena kagak enak maklum image calon pemimpin perusahaan harus saya jaga, meskipun saya harus kehilangan uang sekitar Rp. 20.000-an kalau tidak salah waktu itu. Sebungkus Dimsum yang isinya cuma beberapa biji saya santap di hari berikutnya, jadi sistemnya nodong orang hari ini, besoknya baru Dimsumnya diambil mungkin istilah inggrisnya pre-order. Jadi setiap kali beliau ” menodong ” atau menawarkan Dimsum, saya selalu siap mengiyakan. Sejak saat itulah saya selalu jadi langganannya. Dan itu tidak saya sesali sama sekali, Dimsum adalah salah satu kuliner ternikmat yang pernah saya coba berulang kali, cocok untuk jadi cemilan atau penghilang rasa lapar di waktu pagi.
Semua berubah sejak corona menyerang, karena situasi dan kondisi. Saya memutuskan untuk berhenti jadi budak korporat di kota itu dan saya memilih pulang dan berencana jadi budak korporat di Kota Anging Mammiri. Jadi semenjak saya meninggalkan Batavia ( maksud saya Jakarta ) akhir tahun 2020, bahkan beberapa bulan sebelum pulang, saya sudah tidak pernah mencicipi Dimsum Lagi. Waktu telah berlalu, ini tahun 2025, sewaktu saya mengendarai motor berkeliling kesana-kemari ( lagi-lagi karena gabut ) saya tidak sengaja melihat tenyata ada outlet yang menjual kuliner yang telah lama saya rindukan kurang-lebih 5 tahun lamanya. Seperti Cinta Lama telah Bersemi Kembali ( ” Uhuy.. Akhirnya ” ).
AHA Moment.. itu akhirnya datang saat saya lagi mencari cara mengisi kesepian hidup. Saya memutuskan mengunjungi outlet tersebut untuk menyantap Dimsum. Ketika melihat daftar menu.. ( ” busyet aku tertipu lagi, mahal bro.. “ dalam hati ) saya langsung grogi apalagi yang jaga outlet mungkin masih gadis, entahlah. Masalahnya ini akhir bulan, saldo rekening sudah mulai tercekik. Tetapi dalam rangka menjaga image sebagai calon pemimpin perusahaan, bukan..hehe, maksud saya untuk menjaga diri agak tidak terlihat kere. Saya langsung memesan saja tidak membaca lebih lanjut menunya, saya takut semakin grogi karena melihat harganya. Saya pesan yang best seller, ditambah mango milk plus satu air botol total harganya Rp. 63.000. Saat Dimsum itu tiba di meja saya ( ” kenapa ?, tampilannya beda ini “ ), saya mencoba menyantapnya dengan sumpit agar tidak terkesan kampungan ( ” Dimsumnya beda rasanya, tidak seperti yang dulu yang saya coba “ ).
Kesimpulannya makanan yang mahal bukan jaminan enak di lidah semua orang. Selera memang tidak bisa dibohongi, karena saat itu pas di waktu makan siang saya tetap menyantapnya sampai habis ( ” Kamu tidak seperti dulu lagi Dimsumku ” ). Dalam usaha menghabiskan Dimsum yang sudah terlanjur dipesan, saya mencoba membuka instagram mencari informasi tentang Dimsum di akun outlet yang menyediakan Dimsum yang saya santap. ( ” Waduh saya salah pesan, seharusnya ini yang saya pesan, ini yang saya cari, ini jenis Dimsum yang saya cari ” ). Masalah harga membuat saya kehilangan konséntrasi. Ketika saldo rekening kita sedikit akan membuat kita memiliki mentalitas miskin. Sepertinya saya memang harus menjadi orang kaya atau mungkin harus menikahi orang kaya, bukankah saya adalah calon pemimpin perusahaan di masa depan. ! ( ” Ah.. Dasar Masa Lalu ” ).