• Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kontak
Daritimur.com
  • Berita
  • Biografi
  • Life Style
  • Opini
  • Pendidikan
  • Sosial Politik
  • Agama dan Budaya
  • Info Loker Belopa
  • Berita
  • Biografi
  • Life Style
  • Opini
  • Pendidikan
  • Sosial Politik
  • Agama dan Budaya
  • Info Loker Belopa
No Result
View All Result
Daritimur.com
No Result
View All Result

Ketika Semua Hal Menjadi Konten

daritimur by daritimur
Agustus 9, 2026
in Life Style
0

Ada masa ketika orang pergi ke pantai untuk melihat laut.

Sekarang, sebelum melihat laut, sebagian orang sibuk memastikan apakah kamera sudah menyala.

Ada masa ketika orang makan di warung karena lapar. Sekarang, makanan itu sering harus difoto lebih dulu. Ada masa ketika seseorang datang ke pesta untuk bertemu teman. Kini, pesta bisa berubah menjadi latar untuk membuat video. Bahkan kejadian yang mestinya cukup disimpan sebagai kenangan pribadi, perlahan terasa seperti kehilangan kesempatan kalau tidak sempat diunggah.

Kita hidup dalam zaman ketika hampir apa saja bisa menjadi konten.

Bangun tidur bisa menjadi konten.

Sarapan bisa menjadi konten.

Putus cinta bisa menjadi konten.

Menangis bisa menjadi konten.

Bertengkar bisa menjadi konten.

Bahkan kematian pun, dalam beberapa kasus, tidak luput dari kamera.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi: mengapa orang membuat konten?

Pertanyaan yang lebih menarik adalah: mengapa kita merasa segala sesuatu harus dijadikan konten?

Negeri yang semakin ramai di layar

Perubahan ini tidak muncul dari ruang kosong.

Indonesia memang sedang mengalami ledakan kehidupan digital. DataReportal mencatat ada sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2025, setara dengan penetrasi 74,6 persen populasi. Pada saat yang sama, terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial. Angka itu kemudian meningkat dalam basis data berikutnya: pada Oktober 2025 diperkirakan ada 230 juta pengguna internet dan 180 juta identitas pengguna media sosial.

Angka-angka itu membantu menjelaskan mengapa layar ponsel kini terasa seperti alun-alun baru.

Dulu kita keluar rumah untuk menemukan orang lain. Sekarang orang lain datang ke dalam rumah melalui layar.

Kita bangun dan melihat kehidupan orang lain. Kita bekerja sambil sesekali membuka media sosial. Kita makan sambil menonton video. Kita bepergian sambil memikirkan sudut pengambilan gambar. Kita bahkan kadang mengalami sebuah peristiwa sambil membayangkan bagaimana peristiwa itu akan terlihat di Instagram atau TikTok.

Dengan kata lain, hidup tidak hanya dijalani.

Hidup juga diproduksi.

Dan kita semua, sadar atau tidak, perlahan menjadi produsernya.

Dari pengguna menjadi kreator

Dulu istilah content creator terdengar seperti profesi yang jauh.

Ia identik dengan orang-orang yang memiliki kamera bagus, studio, jutaan pengikut, dan pekerjaan yang memang berkaitan dengan media.

Sekarang batas itu hampir hilang.

Seorang mahasiswa dapat membuat video dari kamar kos.

Pedagang kecil dapat merekam proses memasak lalu menjual produknya melalui media sosial.

Guru dapat membuat video pendek tentang pelajaran.

Petani dapat merekam aktivitas di kebun.

Ibu rumah tangga dapat membuat video memasak.

Buruh, sopir, nelayan, dokter, pegawai kantor, bahkan pensiunan bisa menjadi pembuat konten.

Dalam laporan Indonesia Creator Marketing Report 2025, IDN Research Institute melibatkan 553 kreator dari berbagai tingkatan—mulai nano, mikro, makro hingga selebritas. Penelitian itu juga melibatkan 500 pengguna media sosial dari 12 kota besar, serta 150 UMKM dan 30 merek besar. Artinya, ekonomi kreator bukan lagi fenomena kecil yang hanya hidup di antara selebritas internet. Ia sudah menjadi ekosistem yang mempertemukan audiens, kreator, dan bisnis.

Di sinilah kita perlu berhati-hati dengan kalimat “semua orang sekarang jadi content creator”.

Secara harfiah, tentu tidak benar.

Tetapi secara budaya, ada sesuatu yang berubah: semakin banyak orang mulai memandang dirinya sebagai seseorang yang memiliki sesuatu untuk ditampilkan kepada publik.

Dan di situlah persoalannya menjadi menarik.

Kita tidak hanya hidup. Kita mempertontonkan kehidupan.

Bayangkan seseorang pergi ke sebuah tempat yang indah.

Ia berdiri di depan pemandangan.

Bukannya menikmati pemandangan itu, ia mengatur posisi kamera.

Kemudian mengambil gambar.

Mengulang.

Menghapus.

Mengambil lagi.

Memilih musik.

Menulis keterangan.

Mengunggah.

Setelah itu ia menunggu.

Ada yang menyukai?

Ada yang berkomentar?

Ada yang membagikan?

Berapa jumlah penontonnya?

Pada titik tertentu, pengalaman yang semula menjadi tujuan berubah menjadi bahan baku.

Kita tidak lagi sekadar bertanya:

“Apakah saya menikmati perjalanan ini?”

Tetapi:

“Apakah perjalanan ini cukup bagus untuk diunggah?”

Perbedaan kalimat itu kecil, tetapi konsekuensinya besar.

Sebab ketika pengalaman selalu dilihat dari kemungkinan menjadi konten, kehidupan pribadi mulai dinilai menggunakan logika publik.

Yang penting bukan hanya apakah sesuatu berarti bagi kita.

Yang penting apakah sesuatu menarik bagi orang lain.

Algoritma mengajari kita apa yang layak diperhatikan

Ada satu kekuatan yang sering tidak terlihat dalam semua ini: algoritma.

Media sosial bukan ruang kosong tempat semua konten memiliki kesempatan yang sama.

Platform memilih apa yang ditampilkan, kepada siapa, dan kapan.

Konten yang membuat orang berhenti menggulir punya peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian. Konten yang memancing komentar berpotensi mendapatkan percakapan. Konten yang membuat orang menonton lebih lama dapat terus didorong.

Maka perlahan kita belajar.

Kita belajar bahwa marah lebih menarik daripada tenang.

Pertengkaran lebih menarik daripada percakapan biasa.

Tangisan lebih menarik daripada kebahagiaan yang tidak dramatis.

Kontroversi lebih menarik daripada penjelasan yang panjang.

Dan sesuatu yang biasa-biasa saja sering dianggap tidak layak dipublikasikan.

Akibatnya, kita mulai menciptakan kehidupan yang cocok dengan mesin.

Bukan karena kita diperintah secara langsung.

Tetapi karena kita melihat apa yang berhasil pada orang lain, lalu menirunya.

Begitulah budaya bekerja di era algoritma: bukan selalu dengan larangan, melainkan dengan hadiah.

Sebuah video mendapatkan jutaan penonton.

Seseorang mendapatkan uang.

Sebuah merek datang.

Orang lain melihatnya.

Lalu muncul kesimpulan sederhana:

“Berarti begini cara mendapatkan perhatian.”

Maka ditirulah pola itu.

Ada ekonomi besar di balik kegilaan menjadi konten

Kita juga tidak adil jika hanya menyalahkan masyarakat.

Sebab membuat konten memang sudah menjadi pekerjaan.

Bahkan pemerintah mengakui besarnya peran ekonomi para kreator. Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2025 menyebut kreator konten sebagai profesi yang semakin menjanjikan karena digunakan berbagai merek untuk promosi. Pemerintah juga mencatat bahwa belanja iklan untuk kreator telah menjadi bagian penting dalam persaingan dengan media digital dan televisi.

Jadi ketika seorang anak muda sibuk membuat video setiap hari, kita tidak bisa buru-buru mengatakan ia sedang mencari perhatian.

Mungkin ia sedang bekerja.

Mungkin ia sedang membangun usaha.

Mungkin ia sedang mencari penghasilan.

Mungkin ia sedang membangun nama.

Mungkin ia melihat media sosial sebagai satu-satunya ruang di mana kemampuannya bisa ditemukan orang lain.

Itulah bagian yang sering dilupakan oleh para pengkritik budaya konten.

Di balik video yang tampak remeh, ada tenaga kerja.

Ada waktu.

Ada proses kreatif.

Ada strategi.

Ada ekonomi.

Ada orang yang sedang berusaha hidup.

Tetapi persoalannya muncul ketika hidup pribadi kehilangan batas

Masalahnya bukan pada membuat konten.

Masalahnya adalah ketika semua hal dianggap pantas menjadi tontonan.

Ada sesuatu yang ganjil ketika seseorang tidak bisa lagi membedakan antara pengalaman yang layak dibagikan dan pengalaman yang sebaiknya tetap menjadi milik pribadi.

Tidak semua kesedihan harus direkam.

Tidak semua pertengkaran harus disiarkan.

Tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita otomatis menyetujui dirinya menjadi tokoh dalam konten kita.

Tidak semua anak harus tumbuh dengan jejak digital yang dibuatkan orang tuanya.

Tidak semua kejadian membutuhkan penonton.

Kita membutuhkan kembali satu kemampuan sederhana yang mungkin mulai hilang:

kemampuan untuk mengalami sesuatu tanpa merasa wajib menunjukkannya.

Sebab ada kenangan yang justru menjadi berharga karena tidak pernah masuk internet.

Ada percakapan yang menjadi intim karena tidak direkam.

Ada perjalanan yang menjadi indah karena tidak ada yang sibuk menghitung jumlah penontonnya.

Ada kebaikan yang mungkin justru lebih tulus ketika tidak disertai kamera.

Ketika perhatian menjadi mata uang

Barangkali inilah perubahan terbesar zaman kita.

Dulu uang adalah salah satu ukuran nilai.

Sekarang perhatian juga menjadi mata uang.

Siapa yang mendapatkan perhatian, memiliki kekuatan.

Itulah sebabnya orang berlomba membuat judul yang mengejutkan, gambar yang menarik, cerita yang dramatis, dan video yang membuat orang berhenti menggulir.

Tidak ada yang sepenuhnya salah dengan itu.

Media sejak dulu memang membutuhkan perhatian.

Surat kabar membutuhkan pembaca.

Televisi membutuhkan penonton.

Radio membutuhkan pendengar.

Bedanya, sekarang alat produksinya berada di tangan hampir semua orang.

Kita bukan hanya konsumen media.

Kita juga produsen media.

Itulah sebabnya ruang publik terasa semakin penuh.

Semua orang berbicara.

Semua orang merekam.

Semua orang mengomentari.

Semua orang ingin terlihat.

Dan karena semua orang ingin terlihat, kita menghadapi masalah baru:

siapa yang masih bersedia melihat dengan tenang?

Kita mungkin sedang kehilangan kehidupan yang tidak terdokumentasi

Saya sering membayangkan sebuah kampung pada masa sebelum semua orang membawa kamera di saku.

Orang-orang duduk di teras.

Anak-anak bermain.

Orang tua berbincang.

Tetangga lewat.

Ada cerita yang hanya diketahui lima orang.

Ada lelucon yang hanya dipahami satu kelompok.

Ada peristiwa yang besok sudah dilupakan.

Dan mungkin justru karena itulah hidup terasa ringan.

Sekarang sebuah kejadian bisa bertahan jauh lebih lama daripada orang-orang yang mengalaminya.

Satu video dapat disimpan, dibagikan ulang, dipotong, diberi komentar, lalu beredar bertahun-tahun.

Karena itu, kita perlu membangun kebiasaan baru.

Bukan berhenti membuat konten.

Bukan pula memusuhi media sosial.

Tetapi belajar membuat batas.

Sebab teknologi telah memberi kita kemampuan untuk mengabadikan hampir segala sesuatu.

Tetapi kemampuan untuk mengabadikan bukan berarti kewajiban untuk mengabadikan.

Dan kemampuan untuk membagikan bukan berarti semua hal pantas dibagikan.

Mungkin sesekali kita perlu mematikan kamera

Pada akhirnya, persoalan “semua orang ngonten” bukan semata-mata tentang TikTok, Instagram, YouTube, atau platform tertentu.

Ini tentang perubahan cara kita memandang kehidupan.

Kita sedang hidup dalam masyarakat yang semakin terbiasa menjadikan pengalaman sebagai bahan publikasi.

Dan mungkin kita perlu bertanya kembali:

Apakah saya melakukan ini karena memang berarti?

Atau karena saya takut tidak terlihat?

Apakah saya membagikan ini karena ingin bercerita?

Atau karena ingin mendapatkan pengakuan?

Apakah saya sedang menikmati hidup?

Atau sedang sibuk membuat versi kehidupan yang bisa dinikmati orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting.

Sebab tidak semua yang terjadi harus menjadi konten.

Ada hal-hal yang cukup menjadi pengalaman.

Ada hal-hal yang cukup menjadi cerita untuk orang terdekat.

Ada hal-hal yang cukup kita simpan sendiri.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin berisik ini, salah satu bentuk kemewahan baru adalah kemampuan untuk berkata:

“Tidak semua hal harus saya unggah.”

Kita boleh tetap menjadi kreator.

Tetapi jangan sampai kita lupa menjadi manusia.

Sebab hidup yang baik bukanlah hidup yang paling banyak ditonton.

Kadang-kadang, hidup yang baik justru adalah hidup yang tetap terasa utuh ketika kamera dimatikan.

Previous Post

LOWONGAN KERJA RM RAMA & CATERING SERVICES

Next Post

Ketika Lowongan Kerja Menjadi Jebakan: Di Balik Ramainya Info Loker Palsu

daritimur

daritimur

Next Post

Ketika Lowongan Kerja Menjadi Jebakan: Di Balik Ramainya Info Loker Palsu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kontak

Copyright © 2025 daritimur.com powered by PT. Green Website Indonesia

No Result
View All Result
  • Tentang
  • Redaksi
  • Berita
  • Biografi
  • Life Style
  • Opini
  • Pendidikan
  • Sosial Politik
  • Agama dan Budaya
  • Info Loker Belopa

Copyright © 2025 daritimur.com powered by PT. Green Website Indonesia