
Di tengah padatnya lalu lintas Makassar, di antara klakson yang bersahutan dan orang-orang yang seolah selalu dikejar waktu, ada satu peristiwa kecil yang kerap terjadi—nyaris tanpa kita sadari, tapi diam-diam menyimpan makna besar. Ia disebut Mattonda.
Istilah ini merujuk pada kebiasaan sederhana: seorang pengendara membantu pengendara lain yang motornya bermasalah, dengan cara mendorong dari belakang. Kadang kaki disandarkan ke knalpot, kadang ke pijakan motor. Gerakannya cepat, efisien, seperti sudah dipahami bersama tanpa perlu diajarkan.
Tidak ada aturan yang mewajibkan. Tidak ada kesepakatan tertulis. Tapi ia terus terjadi.
Seolah-olah ada sesuatu dalam diri kita yang masih bekerja—sesuatu yang menolak untuk sepenuhnya acuh.
Aksi Kecil di Tengah Dunia yang Tergesa
Di jalanan, waktu terasa lebih mahal dari apa pun. Satu detik bisa berarti panjangnya antrean, terlambatnya janji, atau bertambahnya emosi.
Dalam situasi seperti itu, berhenti untuk membantu orang lain bukanlah pilihan yang “rasional”.
Tapi Mattonda justru lahir dari momen-momen yang tidak rasional itu.
Seorang pengendara melihat motor di depannya mogok. Ia bisa saja memilih menyalip, atau sekadar menunggu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: ia mendekat, lalu membantu mendorong. Tanpa banyak kata. Tanpa basa-basi.
Setelah itu, mereka berpisah seperti dua garis yang hanya sempat berpotongan sebentar.
Di situlah letak keanehannya—sekaligus keindahannya.
Kota yang Tidak Sepenuhnya Dingin
Kita sering membayangkan kota sebagai ruang yang keras. Tempat di mana orang-orang sibuk dengan urusannya sendiri, dan kepedulian menjadi barang yang semakin langka.
Gambaran itu tidak sepenuhnya keliru.
Tapi Mattonda seperti menjadi catatan kecil yang mengoreksi asumsi tersebut. Ia menunjukkan bahwa di balik wajah kota yang serba cepat dan bising, masih ada lapisan lain yang lebih sunyi: lapisan empati.
Lapisan yang tidak selalu terlihat, tapi sesekali muncul dalam tindakan-tindakan sederhana.
Dan justru karena ia sederhana, kita sering tidak menganggapnya penting.
Jejak Nilai yang Tidak Hilang
Di Sulawesi Selatan, orang mengenal konsep sipakatau—saling memanusiakan. Juga pacce—rasa empati yang membuat kita tidak tega melihat orang lain kesulitan.
Nilai-nilai itu mungkin tidak lagi diucapkan setiap hari. Tidak selalu diajarkan secara formal. Tapi bukan berarti ia hilang.
Ia hanya berubah bentuk.
Dan di jalan raya, di tengah orang-orang yang tidak saling mengenal, nilai itu muncul kembali—dalam bentuk Mattonda.
Sebuah tindakan kecil yang, jika dilihat lebih dalam, sebenarnya adalah warisan panjang dari cara kita memandang sesama manusia.
Antara Risiko dan Kepercayaan
Tentu saja, membantu orang asing di jalan bukan tanpa risiko. Ada kemungkinan kecelakaan, ada kekhawatiran akan hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun fakta bahwa Mattonda tetap terjadi, berulang, setiap hari, menunjukkan satu hal penting: masih ada kepercayaan di antara kita.
Kepercayaan bahwa orang lain layak dibantu.
Kepercayaan bahwa niat baik tidak selalu harus dicurigai.
Dan dalam dunia yang semakin penuh kecurigaan, kepercayaan semacam ini menjadi sesuatu yang tidak sederhana.
Hal Kecil yang Menolak Menjadi Kecil
Mattonda berlangsung dalam waktu yang tidak bisa diukur dengan pasti. Ia hadir sebentar, lalu hilang, secepat arus kendaraan yang kembali bergerak.
Setelah itu, semua kembali seperti semula. Jalanan kembali padat. Orang-orang kembali terburu-buru.
Tapi sesuatu sebenarnya telah terjadi.
Sebuah pengingat kecil bahwa:
Kita masih bisa peduli, bahkan saat sibuk
Kita masih bisa membantu, bahkan tanpa alasan
Kita masih bisa terhubung, bahkan dengan orang asing
Hal-hal seperti ini mungkin tidak akan mengubah kota secara besar-besaran. Tapi ia menjaga sesuatu yang lebih mendasar: rasa bahwa kita masih manusia.
Penutup
Di tengah hiruk pikuk Makassar, Mattonda adalah semacam jeda. Sebuah gangguan kecil terhadap dunia yang serba cepat.
Ia tidak besar. Tidak spektakuler. Tapi justru karena itu, ia jujur.
Dan mungkin, selama praktik kecil seperti ini masih ada—di berbagai sudut jalan, di mana saja roda kehidupan kota bergerak—kita masih punya alasan untuk percaya bahwa kemanusiaan belum benar-benar pergi.
Ia hanya bersembunyi. Lalu muncul, sesekali, di jalanan.
