
Di sebuah malam yang tampaknya biasa di Jakarta, Maret 2026, sesuatu yang tidak biasa terjadi. Seorang anak muda—aktivis hak asasi manusia—disiram air keras oleh orang tak dikenal. Ia adalah Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, organisasi yang sejak lama berdiri di garis depan memperjuangkan keadilan bagi korban kekerasan dan pelanggaran HAM.
Serangan itu bukan sekadar kriminalitas jalanan. Ia adalah pesan.
Dan seperti semua pesan yang dikirim lewat kekerasan, ia ingin menanamkan rasa takut.
Anak Muda yang Memilih Jalan Sunyi
Kita sering memuji anak muda sebagai generasi kreatif, adaptif, dan penuh inovasi. Tapi jarang kita memberi perhatian pada mereka yang memilih jalan sunyi: menjadi pembela hak asasi manusia.
Andrie Yunus adalah bagian dari generasi itu.
Ia tidak bekerja dalam sorotan popularitas. Ia bekerja dalam ruang-ruang sunyi advokasi: mendampingi korban, mengkritik kebijakan, dan mengingatkan negara agar tidak melampaui batas. Dalam beberapa tahun terakhir, ia aktif menyuarakan isu reformasi sektor keamanan, transparansi kebijakan publik, dan akuntabilitas aparat.
Pilihan ini bukan tanpa risiko. Dalam konteks Indonesia, menjadi aktivis yang kritis terhadap kekuasaan berarti hidup berdampingan dengan ancaman—baik yang kasat mata maupun yang tersembunyi.
Dan kini, ancaman itu menjelma menjadi kekerasan nyata.
Serangan yang Tidak Sederhana
Penyiraman air keras bukan tindakan impulsif. Ia adalah bentuk kekerasan yang mengandung unsur perencanaan, niat, dan efek jangka panjang. Korbannya tidak hanya mengalami luka fisik, tetapi juga trauma psikologis, bahkan kemungkinan kehilangan fungsi tubuh secara permanen.
Dalam banyak kasus di Indonesia, air keras digunakan sebagai alat teror—untuk membungkam, mempermalukan, dan melumpuhkan korban secara sosial.
Artinya, serangan terhadap Andrie tidak bisa dilihat sebagai kejahatan biasa. Ia memiliki dimensi yang lebih dalam: upaya menciptakan efek gentar, bukan hanya kepada korban, tetapi juga kepada komunitas yang lebih luas.
Mengapa Kita Harus Membela?
Membela Andrie Yunus bukan soal kedekatan personal. Ini soal prinsip.
Karena yang diserang bukan hanya individu.
Yang diserang adalah hak untuk bersuara.
Yang diserang adalah keberanian untuk mengkritik.
Yang diserang adalah ruang sipil yang seharusnya dilindungi dalam negara demokrasi.
Dalam negara hukum, perbedaan pendapat adalah hal yang sah. Kritik terhadap kebijakan publik adalah bagian dari partisipasi warga negara. Ketika kritik dibalas dengan kekerasan, maka yang runtuh bukan hanya rasa aman individu, tetapi fondasi demokrasi itu sendiri.
Diam dalam situasi seperti ini bukan netral. Diam adalah bentuk pembiaran.
Negara Tidak Boleh Absen
Kasus seperti ini menguji keseriusan negara dalam melindungi warganya, terutama mereka yang berada di garis depan pembelaan hak asasi manusia.
Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan. Ia harus menembus hingga ke aktor intelektual—jika memang ada. Prosesnya harus transparan, akuntabel, dan bebas dari intervensi.
Jika negara gagal mengungkap kebenaran, maka pesan yang tersisa di ruang publik adalah: kekerasan bisa dilakukan tanpa konsekuensi.
Dan itu adalah preseden yang berbahaya.
Luka Itu Milik Kita Semua
Aktivis sering dianggap “berbeda”—seolah mereka berada di luar kehidupan sehari-hari kita. Padahal, mereka adalah bagian dari masyarakat yang sama. Mereka hanya memilih untuk tidak diam.
Ketika Andrie Yunus diserang, yang terluka bukan hanya dirinya.
Yang ikut terluka adalah rasa aman kita sebagai warga negara.
Yang ikut tergores adalah keyakinan bahwa hukum masih berpihak pada keadilan.
Maka membela Andrie bukan soal empati semata. Ini adalah upaya menjaga batas: bahwa dalam demokrasi, tidak ada ruang untuk kekerasan terhadap suara yang berbeda.
Penutup: Jangan Biarkan Ketakutan Menjadi Normal
Demokrasi tidak runtuh dalam satu peristiwa besar. Ia melemah perlahan—setiap kali kita membiarkan intimidasi, setiap kali kita menormalisasi kekerasan, setiap kali kita memilih diam.
Membela Andrie Yunus adalah bagian dari upaya menghentikan proses itu.
Bukan karena ia tanpa cela. Tapi karena ia mewakili sesuatu yang lebih besar: keberanian untuk berdiri, bahkan ketika risiko mengintai.
Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang Andrie.
Ini tentang kita semua—tentang apakah kita masih percaya bahwa suara warga negara layak dilindungi.
Atau justru kita mulai menerima bahwa ketakutan adalah harga yang harus dibayar untuk berbicara.