
Ada yang aneh dengan rindu. Ia tidak selalu datang pada orang. Kadang ia datang pada rasa.
Saya pernah merindukan satu jenis makanan. Bukan makanan mahal, bukan pula yang viral di layar ponsel. Makanan itu sederhana, lahir dari dapur yang tidak mengenal plating, tidak kenal estetika Instagram, dan tidak pernah memikirkan rating.
Ia hanya tahu satu hal: menyenangkan tamu.
Waktu itu saya sedang berada di sebuah desa. Jauh dari hiruk kota, jauh dari pilihan menu yang panjang seperti kitab suci restoran. Yang ada hanya dapur, kayu bakar, dan tangan-tangan yang bekerja dengan perasaan.
Saya disuguhi makanan itu. Hangat. Harumnya pelan-pelan naik, seperti ingin berkenalan. Saya makan tanpa banyak tanya. Dan anehnya, semua terasa pas. Tidak berlebihan, tidak juga kurang.
Saya kenyang. Tapi lebih dari itu, saya merasa diterima.
Bertahun-tahun kemudian, rindu itu datang lagi. Bukan pada orang desa itu. Tapi pada rasa yang pernah singgah di lidah.
Saya mencarinya di Makassar. Kota yang ramai, pilihan makanannya seperti tidak ada habisnya. Saya pikir, pasti ada. Masa iya satu rasa saja tidak bisa ditemukan di kota sebesar ini?
Dan akhirnya, saya menemukannya. Atau setidaknya, saya kira begitu.
Nama makanannya sama. Bentuknya juga mirip. Bahkan aromanya seperti berusaha meyakinkan saya: “Ini yang kamu cari.”
Saya duduk. Memesan. Menunggu dengan sedikit harap yang diam-diam tumbuh.
Lalu saya makan.
Dan di situlah saya sadar: tidak semua yang sama, benar-benar sama.
Rasanya… ya, bisa dimakan. Tidak buruk. Tapi juga tidak menggetarkan apa pun. Tidak ada yang mengetuk ingatan. Tidak ada yang membuka pintu kenangan.
Saya tersenyum kecil. Sedikit kecewa, tapi tidak marah.
Mungkin saya yang berubah. Mungkin lidah saya yang terlalu banyak belajar hal lain. Atau mungkin, saya sudah datang dalam keadaan kenyang—dan rasa memang tidak suka bersaing dengan perut yang sudah penuh.
Tapi mungkin juga, ini soal yang lain.
Di desa itu, saya adalah tamu.
Dan kita tahu, tamu di desa tidak pernah disuguhi yang “biasa saja”. Yang keluar dari dapur adalah yang terbaik yang mereka punya. Bukan karena saya penting. Tapi karena mereka percaya, menyenangkan tamu adalah bagian dari menjaga harga diri.
Bahan yang dipilih bukan yang sisa. Bumbu tidak ditakar dengan hemat. Semua dimasak dengan niat: agar tamu pulang membawa cerita baik.
Sementara di kota, makanan sering kali harus bernegosiasi dengan sesuatu yang bernama “biaya”.
Ada harga bahan baku. Ada target keuntungan. Ada kebutuhan untuk tetap bertahan di tengah kompetisi.
Maka mungkin saja, tanpa kita sadari, ada yang dikurangi. Sedikit demi sedikit. Bukan untuk menipu, tapi untuk menyesuaikan.
Dan di situlah rasa mulai berubah.
Saya tidak sedang menyalahkan siapa pun.
Warung di kota punya logikanya sendiri. Dapur di desa punya ceritanya sendiri.
Yang satu memasak untuk bertahan.
Yang satu memasak untuk berbagi.
Dan kadang, perbedaan niat itu terasa sampai ke lidah.
Akhirnya saya berhenti mencari.
Bukan karena tidak ada lagi tempat lain. Tapi karena saya mulai mengerti: yang saya rindukan bukan hanya rasa.
Saya merindukan suasana.
Merindukan cara makanan itu disajikan tanpa tergesa.
Merindukan perasaan menjadi tamu yang diperlakukan seperti keluarga.
Rasa itu tidak ikut merantau. Ia tinggal di sana—di dapur yang sederhana, di tangan yang tulus, di momen yang tidak bisa diulang.
Jadi kalau hari ini saya menemukan makanan yang “tidak sama”, saya tidak lagi kecewa.
Saya hanya tersenyum.
Karena saya tahu, yang hilang bukan resepnya.
Tapi situasinya.
Dan beberapa hal memang tidak bisa dibeli.
Termasuk rasa yang lahir dari ketulusan.
