Buku Ikhtiar Dalam Pikiran: Renungan, Realita, dan Romantisme Hidup Mahasiswa

*Redaksi
Cara klasik untuk meningkatkan kemampuan diri sendiri yang dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun adalah dengan mambaca buku. Makanya penting untuk memilih buku yang tepat untuk dibaca sampai selesai. Tahun 2025 adalah tahun penuh tantangan dan rintangan dalam mempersiapkan karier dan keuangan, kita mengalami kegelisahan dan kecemasan karena hal tersebut. Untuk menghibur diri secara berkualitas, ada satu buku nonfiksi yang direkomendasikan untuk dijadikan bacaan di waktu senggang, yaitu Ikhtiar Dalam Pikiran, sebuah buku yang diterbitkan oleh penerbit indie ellunar publisher dari kota bandung dan ditulis oleh penulis bernama Abdullah Dari Timur.
Buku ini memotret pikiran dan perasaan anak muda usia mahasiswa 18-25 tahun, yang gemar mencurahkan isi pikiran dan perasaannya di media sosial. Tulisan yang dihasilkannya berasal dari interaksinya dengan lingkungan, membaca buku, menonton film, diskusi dengan orang-orang, renungan/dialog dengan diri sendiri atas apa yang dialaminya.
Ini rekomendasi buku yang menarik dan terasa personal ya—ngena banget terutama buat kamu yang sedang berada di masa transisi antara idealisme masa muda dan realita kehidupan dewasa. Ikhtiar Dalam Pikiran bukan sekadar kumpulan tulisan, tapi semacam ruang curhat yang penuh refleksi, renungan, dan keresahan yang sangat relate sama kehidupan anak muda masa kini, apalagi di tengah tekanan karier dan keuangan tahun-tahun belakangan ini.
Berikut 2 kutipan dalam buku itu yang penuh makna dan puitis, kaya akan emosi dan pandangan hidup yang unik—terasa seperti potongan diary seseorang yang tidak ingin hanya menjalani hidup, tapi juga memaknainya. Misalnya kutipan yang ini :
“ Memang, menjadi mahasiswa sangat romantis tetapi menjadi Sarjana sangat realistis…”
Itu dalem banget. Ada kesadaran di situ, bahwa dunia pasca-kampus itu nggak seindah bait-bait puisi atau caption Instagram—ada tuntutan, target, dan kadang kesepian juga. Tapi justru di situlah kita perlu menemukan makna dan kekuatan untuk terus berjalan. Dan juga kutipan yang ini :
” Jika harus menjadi orang lain, “Aku tidak ingin menjadi Rangga apalagi menjadi Dilan karena Cinta dan Milea bukan tipeku. Aku hanya ingin menjadi Gie, seorang laki-laki yang selalu mencintaimu (Maria).”
Kutipan ini benar-benar kuat dan penuh identitas—seolah jadi pernyataan sikap dari seseorang yang menolak ikut arus romantisasi populer, dan memilih sosok yang lebih idealis dan penuh perenungan seperti Soe Hok Gie.
Kalimat itu bisa dimaknai sebagai bentuk resistensi terhadap standar cinta mainstream (ala Rangga-Cinta atau Dilan-Milea), dan memilih representasi cinta yang lebih dalam dan intelektual—seperti Gie dan Maria. Ada nilai kejujuran, kesetiaan, dan pemikiran kritis yang dibungkus dalam gaya naratif yang puitis.
Kalau kamu tertarik untuk membacanya, silahkan menghubungi kontak pemesanan buku: WA/SMS: 0896-8530-9651. Selamat membaca, semoga rekomendasi buku ini memberikan inspirasi atau setidaknya jadi salah satu referensi bagi kamu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hidup makin berat setelah kita dewasa kawan ? keep fighting spirit.
good luck, good job, goodbye and god bless you !
