
Syajarah al-Durr, yang berarti “Pohon Mutiara”, adalah seorang wanita asal Turki yang awalnya merupakan budak yang dihadiahkan kepada Sultan al-Malik al-Salih Najm al-Din Ayyub. Setelah menjadi istri Sultan al-Salih, ia memperoleh pendidikan politik dan keagamaan yang mendalam. Setelah kematian suaminya dan terbunuhnya Sultan Turanshah, Syajarah al-Durr diangkat sebagai sultanah oleh para pemimpin militer Mamluk pada tahun 1250 M.
Sebagai sultanah, Syajarah al-Durr memainkan peran penting dalam mempertahankan Mesir dari serangan Tentara Salib yang dipimpin oleh Raja Louis IX dari Prancis. Ia berhasil mengusir pasukan Salib dari Mesir dan mengamankan wilayah tersebut. Untuk melegitimasi kekuasaannya, ia mengeluarkan kebijakan politik dan militer yang efektif, serta mendirikan struktur pemerintahan yang stabil.
Syajarah al-Durr dikenal sebagai sultanah pertama di Mesir dan merupakan satu-satunya wanita yang pernah memerintah Mesir selama era Islam. Meskipun masa pemerintahannya singkat, kontribusinya dalam mempertahankan Mesir dari serangan luar dan peranannya dalam transisi kekuasaan dari Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamluk sangat signifikan. Setelah masa pemerintahannya, ia tetap memiliki pengaruh besar dalam politik Mesir melalui pernikahannya dengan Amir Izz al-Din Aybak, yang kemudian menjadi sultan pertama Dinasti Mamluk .
Syajarah al-Durr adalah sosok penting dalam sejarah Mesir dan dunia Islam. Kepemimpinannya yang cerdas dan strategis menunjukkan bahwa wanita memiliki peran yang signifikan dalam sejarah politik dan militer. Warisan dan pengaruhnya tetap dikenang sebagai bagian integral dari sejarah Dinasti Mamluk dan Mesir secara keseluruhan.
