
Kita sering datang ke masjid hanya pada bagian akhirnya:
azan berkumandang, karpet bersih, sound system menyala, air wudhu mengalir, lalu imam berdiri di depan.
Semuanya terasa berjalan alami.
Padahal di balik itu, ada orang-orang yang bekerja diam-diam menjaga masjid tetap hidup.
Mereka disebut pengurus masjid.
Atau dalam banyak tempat:
takmir.
Siapa Saja Pengurus Masjid Itu?
Banyak orang mengira pengurus masjid hanya ketua DKM atau takmir.
Padahal sebuah masjid biasanya punya banyak “pekerjaan tak terlihat”.
Ada:
- ketua takmir
- sekretaris
- bendahara
- imam tetap
- khatib Jumat
- muazin
- marbot
- petugas kebersihan
- hingga pengelola parkir dan keamanan
Di masjid besar, strukturnya bahkan mirip organisasi kecil.
Ada divisi:
- sosial
- pendidikan
- zakat
- media
- hingga usaha ekonomi masjid
Karena masjid hari ini bukan hanya tempat salat.
Ia juga pusat aktivitas sosial.
Marbot: Orang yang Paling Awal Datang, Paling Akhir Pulang
Kalau masjid adalah rumah umat, maka marbot adalah orang yang menjaga rumah itu tetap menyala.
Mereka yang:
- membuka pintu subuh
- membersihkan toilet
- menggulung kabel speaker
- mengangkat galon
- bahkan kadang mengganti lampu sendiri
Ironisnya, justru posisi ini sering paling kecil honornya.
Banyak marbot di Indonesia bekerja bukan karena gaji besar, tapi karena pengabdian.
Beberapa daerah bahkan baru mulai memberi perhatian pada kesejahteraan mereka. Di Kudus misalnya, pemerintah daerah pernah memberikan bantuan honor kepada imam, khatib, dan marbot masjid.
Namun di banyak desa, marbot tetap hidup dari:
- kotak amal
- sedekah jamaah
- atau pekerjaan sampingan
Kadang siang bertani.
Malam menjaga masjid.
Kotak Amal: Kecil Bentuknya, Besar Ceritanya
Kotak amal adalah salah satu sumber kehidupan masjid.
Dan menariknya, kondisi ekonomi jamaah sering bisa terlihat dari isi kotak amal.
Di beberapa masjid kota besar, terutama saat Ramadan, pemasukan infak bisa mencapai jutaan rupiah per hari. Salah satu pengurus masjid di Aceh menyebut infak Ramadan pernah mencapai Rp10 juta per malam sebelum menurun beberapa tahun terakhir.
Di masjid besar atau kompleks elite, sumber dana bukan hanya kotak amal.
Ada:
- hibah pemerintah
- donatur tetap
- CSR perusahaan
- wakaf
- parkir
- hingga usaha masjid
Beberapa masjid bahkan punya aset produktif:
- ruko
- aula
- sawah wakaf
- koperasi
- penyewaan perlengkapan acara
Ada marbot yang mendapat fasilitas rumah tinggal, listrik gratis, bahkan pengelolaan sawah wakaf.
Masjid besar hari ini kadang bukan hanya pusat ibadah.
Tapi juga institusi ekonomi.
Khatib Jumat dan “Jadwal Kehormatan”
Ada juga tradisi menarik:
jadwal khatib Jumat.
Di sebagian masjid besar, menjadi khatib adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab.
Beberapa khatib mendapat honor transportasi atau uang apresiasi.
Tidak selalu besar.
Kadang hanya cukup untuk bensin dan kopi perjalanan pulang.
Tapi di masjid tertentu, terutama masjid besar perkotaan, honornya bisa cukup tinggi—apalagi jika mengundang ustaz terkenal.
Sementara di desa-desa, khatib sering datang tanpa bicara honor sama sekali.
Karena yang dibawa bukan kontrak kerja.
Tapi rasa tanggung jawab sosial.
Masjid Kota dan Masjid Desa: Dua Dunia yang Berbeda
Di sinilah kontras itu terasa.
Ada masjid yang:
- pendinginnya sentral
- karpetnya impor
- parkirnya luas
- running text LED-nya lebih terang dari masa depan sebagian jamaahnya
Tapi ada juga masjid desa yang:
- kipas anginnya berbunyi lebih keras dari ceramah
- cat temboknya mulai pudar
- kotak amal Jumat kadang hanya cukup bayar listrik
Dan pengurusnya tetap bertahan.
Tanpa honor tetap.
Tanpa proposal hibah.
Tanpa donatur besar.
Hanya modal ikhlas dan teh manis selepas Isya.
Ketika Masjid Menjadi Simbol Status Sosial
Di beberapa tempat, pembangunan masjid juga kadang berubah menjadi simbol prestise.
Semakin megah masjid, semakin tinggi kebanggaan lingkungan.
Padahal pertanyaan pentingnya sederhana:
apakah masjidnya hidup?
Karena ada masjid yang megah, tapi sepi kegiatan sosial.
Dan ada mushola kecil di desa yang sederhana, tapi setiap malam dipenuhi anak-anak mengaji.
Masjid Bukan Hanya Bangunan
Yang sering terlupakan, masjid sebenarnya hidup bukan karena kubahnya.
Tapi karena orang-orang yang menjaganya.
Orang yang datang paling pagi membuka pintu.
Orang yang mengepel sajadah.
Orang yang memastikan air wudhu tetap mengalir.
Mereka mungkin tidak terkenal.
Tidak viral.
Tidak masuk poster kajian besar.
Tapi tanpa mereka, masjid hanya akan menjadi bangunan sunyi.
Penutup: Ada Orang-Orang yang Menjaga Cahaya Tetap Menyala
Mungkin itu yang paling indah dari masjid.
Ia tidak hanya dibangun oleh semen dan donasi.
Tapi juga oleh orang-orang yang menjaga keikhlasan tetap hidup.
Di kota besar maupun desa kecil.
Di masjid megah maupun mushola sederhana.
Dan sering kali,
orang paling berjasa di masjid
justru orang yang namanya tidak pernah diumumkan lewat pengeras suara.
