
Dulu, orang tua sering berkata:
“Sekolah yang tinggi supaya hidupmu enak.”
Kalimat itu diucapkan dengan tulus.
Dengan keyakinan penuh.
Seolah gelar sarjana adalah tiket otomatis menuju masa depan yang rapi.
Hari ini, banyak anak muda mulai bertanya pelan-pelan:
“Benarkah begitu?”
Karena kenyataannya, setelah wisuda selesai dan toga dikembalikan, hidup justru baru mulai memperlihatkan tagihannya.
Kuliah Semakin Mahal
Biaya pendidikan tinggi terus naik dari tahun ke tahun.
UKT naik.
Biaya kos naik.
Laptop harus layak.
Internet harus cepat.
Belum lagi tuntutan sertifikat, pelatihan, dan magang.
Kuliah hari ini bukan hanya soal belajar.
Tapi juga soal bertahan secara ekonomi.
Banyak keluarga rela:
- menjual tanah
- mengambil cicilan
- atau menghabiskan tabungan
…demi satu harapan:
anaknya nanti hidup lebih baik.
Masalahnya, harapan itu tidak selalu bertemu realitas.
Sarjana Semakin Banyak, Lapangan Kerja Tidak Tumbuh Secepat Itu
Indonesia mengalami ledakan lulusan perguruan tinggi. Tapi pasar kerja tidak berkembang secepat jumlah sarjana yang lahir setiap tahun.
Akibatnya, muncul fenomena yang disebut mismatch:
lulusan dan kebutuhan industri tidak bertemu di titik yang sama.
Ada lulusan komunikasi bekerja di administrasi.
Ada sarjana hukum jadi customer service.
Ada sarjana pertanian yang akhirnya jualan online.
Dan sebenarnya itu tidak salah.
Karena kadang hidup memang lebih membutuhkan pemasukan dibanding idealisme jurusan.
Ketika Gelar Tidak Lagi Menjamin
Data Kementerian Ketenagakerjaan pernah menunjukkan sekitar 12 persen pengangguran di Indonesia berasal dari lulusan diploma dan sarjana. Salah satu penyebab utamanya adalah tidak adanya “link and match” antara kampus dan dunia kerja.
Lebih ironis lagi, pada 2025 jumlah sarjana menganggur disebut telah menembus lebih dari satu juta orang.
Ini paradoks modern:
pendidikan meningkat, tapi kecemasan juga ikut meningkat.
Kerja Ada, Tapi Tidak Selalu Sesuai
Dan ketika pekerjaan akhirnya datang, sering kali muncul kenyataan lain:
gajinya tidak sebanding dengan biaya perjuangan.
Ada yang kuliah empat tahun, lalu bekerja dengan gaji yang bahkan habis untuk ongkos dan kopi sachet akhir bulan.
Ada yang diterima kerja, tapi:
- kontrak pendek
- lembur panjang
- jenjang karir samar
- dan kalimat:
“bersyukurlah dulu punya pekerjaan.”
Kalimat itu sering terdengar bijak.
Padahal kadang hanya cara halus untuk menormalisasi upah rendah.
Generasi yang Hidup dalam Tekanan Diam-Diam
Yang berat sebenarnya bukan hanya soal uang.
Tapi tekanan sosial.
Karena setelah wisuda, pertanyaan mulai berdatangan:
- “Kerja di mana?”
- “Kapan jadi ASN?”
- “Gajinya berapa?”
- “Kok masih di rumah?”
Dan media sosial memperparah semuanya.
Kita melihat teman upload:
- kerja di startup
- WFA di coffee shop
- ikut management trainee
- atau foto ID card perusahaan besar
Sementara kita masih mengetik:
“Dear HRD…”
Masalahnya Bukan Malas, Tapi Struktur
Sering kali generasi muda dituduh:
- kurang tahan banting
- terlalu memilih pekerjaan
- atau terlalu idealis
Padahal masalahnya lebih besar dari itu.
Dunia kerja berubah cepat:
- otomatisasi meningkat
- AI mulai menggantikan pekerjaan administratif
- perusahaan makin efisien
- sementara kampus sering tertinggal dari kebutuhan industri
Akibatnya, banyak lulusan datang ke pasar kerja dengan keterampilan yang tidak benar-benar dibutuhkan.
Sarjana Hari Ini Harus Punya Lebih dari Sekadar Ijazah
Karena itu, ijazah hari ini sering tidak cukup.
Perusahaan mulai mencari:
- pengalaman
- portofolio
- kemampuan komunikasi
- skill digital
- hingga kemampuan adaptasi
Ironisnya, banyak lowongan entry level justru meminta pengalaman kerja.
Sebuah logika yang kadang membuat lulusan baru ingin bertanya:
“Kalau semua harus berpengalaman, siapa yang pertama kali memberi kesempatan?”
Tapi Pendidikan Tetap Penting
Meski begitu, pendidikan tetap penting.
Kuliah bukan gagal.
Yang bermasalah adalah ekspektasi bahwa gelar otomatis menjamin kesejahteraan.
Hari ini, pendidikan mungkin bukan lagi tiket sukses instan.
Tapi tetap bisa menjadi alat untuk membuka kemungkinan hidup yang lebih luas.
Hanya saja, jalannya tidak sesederhana dulu.
Penutup: Generasi yang Sedang Belajar Berdamai
Mungkin generasi hari ini adalah generasi yang paling lelah.
Mereka tumbuh dengan janji:
“belajar yang rajin, nanti hidupmu aman.”
Lalu ketika dewasa, mereka menemukan kenyataan:
hidup ternyata tidak sesederhana nasihat motivasi di spanduk sekolah.
Tapi mungkin, di situlah kita belajar sesuatu.
Bahwa menjadi sarjana hari ini bukan soal merasa paling siap menghadapi dunia—
melainkan belajar tetap berjalan meski dunia berubah terlalu cepat.
Dan kadang,
itu jauh lebih sulit daripada ujian skripsi.
