
Belajar Kini Menjadi Komoditas
Beberapa tahun lalu, media sosial dipenuhi foto makanan, perjalanan, atau momen bersama keluarga. Hari ini, linimasa kita berubah. Di sela video hiburan dan berita terkini, bermunculan iklan kelas karier, kelas public speaking, kelas Canva, kelas Artificial Intelligence (AI), digital marketing, personal branding, hingga kelas yang menjanjikan seseorang bisa mendapatkan pekerjaan impian atau meningkatkan penghasilan dalam waktu singkat.
Seolah-olah, setiap persoalan hidup memiliki satu jawaban: ikut kelas.
Perubahan ini bukan kebetulan. Internet telah mengubah cara manusia belajar. Pengetahuan tidak lagi hanya berasal dari kampus atau ruang pelatihan perusahaan. Kini siapa pun bisa menjadi pengajar, siapa pun bisa menjadi peserta, dan media sosial mempertemukan keduanya hanya dalam hitungan detik.
Laporan We Are Social dan Meltwater menunjukkan masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari di internet, dengan sebagian besar waktunya digunakan untuk mengakses media sosial. Di saat yang sama, dunia kerja juga berubah sangat cepat. LinkedIn Workplace Learning Report mencatat bahwa perusahaan semakin membutuhkan pekerja yang terus meningkatkan keterampilannya (upskilling dan reskilling).
Artinya, kebutuhan untuk belajar memang nyata.
Ketika Rasa Takut Menjadi Strategi Pemasaran
Masalahnya, kebutuhan belajar kemudian bertemu dengan logika bisnis.
Lahir sebuah industri yang menjual harapan.
Harapan mendapatkan pekerjaan.
Harapan naik jabatan.
Harapan memperoleh penghasilan tambahan.
Harapan agar tidak tergantikan oleh AI.
Harapan agar menjadi pribadi yang lebih percaya diri.
Narasi pemasaran yang digunakan pun hampir seragam.
“Kalau belum belajar AI sekarang, lima tahun lagi Anda akan tertinggal.”
“Rahasia sukses yang tidak diajarkan di kampus.”
“Skill ini membuat gaji naik dua kali lipat.”
Kalimat-kalimat seperti itu bukan muncul tanpa alasan. Dalam psikologi, terdapat konsep Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kecemasan ketika seseorang merasa akan tertinggal dibanding orang lain. Rasa takut kehilangan peluang sering kali jauh lebih efektif mendorong seseorang mengambil keputusan dibanding sekadar iming-iming keuntungan.
Media sosial memperkuat mekanisme tersebut. Algoritma bekerja berdasarkan perhatian. Semakin dramatis sebuah judul, semakin besar peluang orang berhenti menggulir layar, menonton, lalu membagikannya.
Tidak heran jika promosi kelas sering terdengar sangat meyakinkan.
Belajar Memang Penting, tetapi Tidak Ada Jalan Pintas
Perlu ditegaskan, tidak ada yang salah dengan kelas digital.
Belajar Canva dapat membantu seseorang membuat desain lebih cepat.
Belajar AI membantu meningkatkan produktivitas kerja.
Public speaking membuat komunikasi lebih efektif.
Digital marketing menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan dunia usaha.
Semua itu adalah keterampilan yang relevan.
Yang sering menjadi persoalan adalah cara memasarkannya.
Tidak sedikit promosi yang memberi kesan bahwa mengikuti kelas selama beberapa jam sudah cukup untuk mengubah hidup seseorang.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Berbagai penelitian tentang proses belajar menunjukkan bahwa kompetensi terbentuk melalui latihan berulang, praktik langsung, evaluasi, dan pengalaman nyata. Sebuah kelas hanyalah pintu masuk. Setelah itu masih ada proses panjang yang harus dijalani.
Dengan kata lain, membeli kelas bukan berarti otomatis menjadi ahli.
Sindrom Mengoleksi Kelas
Di era digital muncul kebiasaan baru yang menarik.
Banyak orang membeli kelas demi kelas, mengikuti webinar hampir setiap minggu, mengoleksi sertifikat, tetapi tidak pernah benar-benar mempraktikkan apa yang dipelajarinya.
Mereka merasa produktif karena terus belajar.
Padahal yang bertambah hanyalah daftar kelas yang pernah diikuti.
Fenomena ini sering disebut sebagai tutorial addiction, yaitu kondisi ketika seseorang lebih menikmati proses mencari materi baru dibanding benar-benar menerapkannya.
Belajar berubah menjadi konsumsi.
Bukan lagi proses perubahan.
Padahal keterampilan hanya tumbuh ketika pengetahuan dipraktikkan.
Mengapa Banyak Orang Beralih Menjual Kelas?
Ada alasan ekonomi yang cukup masuk akal.
Di era ekonomi kreator (creator economy), pengetahuan dapat diubah menjadi produk digital.
Seorang desainer tidak hanya mendesain.
Ia juga menjual kelas desain.
Seorang praktisi HR tidak hanya merekrut.
Ia juga mengajarkan cara lolos wawancara kerja.
Seorang ahli AI tidak hanya menggunakan AI.
Ia juga menjual pelatihan AI.
Model bisnis seperti ini sebenarnya sah dan bahkan dapat memberikan manfaat jika materi yang diajarkan benar-benar berkualitas.
Masalah muncul ketika pengalaman pribadi dipasarkan seolah-olah menjadi rumus yang berlaku untuk semua orang.
Padahal kesuksesan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pendidikan, lingkungan, kesempatan, jaringan, kondisi ekonomi, hingga keberuntungan.
Tidak ada satu formula yang cocok untuk semua orang.
Sertifikat Bukan Jaminan Kompetensi
Di media sosial, sertifikat sering dijadikan daya tarik utama.
Padahal dunia kerja mulai bergerak ke arah yang berbeda.
Perusahaan kini lebih banyak melihat portofolio, pengalaman proyek, kemampuan menyelesaikan masalah, dan keterampilan nyata dibanding sekadar jumlah sertifikat.
Laporan World Economic Forum bahkan menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja perlu meningkatkan keterampilan mereka dalam beberapa tahun ke depan akibat perkembangan teknologi dan otomatisasi. Namun peningkatan keterampilan itu tidak cukup hanya melalui pelatihan singkat. Dibutuhkan praktik nyata dan pembelajaran berkelanjutan.
Sertifikat memang bisa menjadi nilai tambah.
Tetapi kemampuan tetap menjadi penentu utama.
Industri yang Akan Terus Tumbuh
Pasar pembelajaran digital diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang. Pertumbuhan internet, meningkatnya kebutuhan tenaga kerja digital, serta kemunculan teknologi AI membuat masyarakat semakin terdorong untuk belajar keterampilan baru.
Karena itu, kelas-kelas digital kemungkinan tidak akan berkurang.
Justru akan semakin banyak.
Yang berubah adalah kualitas persaingan.
Masyarakat akan semakin selektif memilih kelas yang benar-benar memberikan nilai tambah.
Menjadi Pembelajar yang Kritis
Di tengah banjir promosi, masyarakat perlu memiliki kemampuan menyaring informasi.
Sebelum membeli sebuah kelas, setidaknya ada beberapa pertanyaan yang layak diajukan.
- Apakah pengajarnya memiliki pengalaman yang dapat diverifikasi?
- Apakah materi yang diajarkan berbeda dengan sumber gratis yang tersedia di internet?
- Apakah kelas tersebut memberikan praktik nyata?
- Apakah testimoni peserta dapat dibuktikan?
- Apakah kelas menjual proses belajar atau sekadar menjual mimpi?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih rasional.
Belajar Tidak Pernah Salah, yang Salah Adalah Ekspektasi Instan
Pada akhirnya, yang dibutuhkan masyarakat bukan semakin banyak kelas, melainkan kemampuan memilih kelas yang tepat.
Ilmu memang bisa dibeli.
Tetapi kemampuan tidak.
Kemampuan lahir dari latihan, pengalaman, kegagalan, dan kemauan untuk terus belajar setelah kelas selesai.
Media sosial boleh saja dipenuhi promosi kelas baru setiap hari. Namun, ukuran keberhasilan seseorang bukan ditentukan oleh berapa banyak webinar yang pernah diikuti atau berapa banyak sertifikat yang dikoleksi.
Yang benar-benar mengubah hidup adalah keberanian mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Di era digital ini, tantangan terbesar bukan lagi sulitnya memperoleh ilmu. Tantangan sesungguhnya adalah membedakan mana ilmu yang benar-benar dibutuhkan dan mana sekadar janji yang dikemas dengan pemasaran yang menarik.
