
Pernahkah Anda memperhatikan siapa yang pertama kali memulai aktivitas ketika matahari belum terbit?
Pedagang sayur sudah kembali dari pasar induk. Penjual nasi kuning mulai menata dagangan. Pengemudi ojek online menunggu pesanan pertama. Tukang bangunan berkumpul di pinggir jalan berharap ada mandor yang datang menawarkan pekerjaan.
Mereka tidak bekerja di gedung bertingkat. Tidak memiliki kartu identitas perusahaan. Sebagian besar juga tidak menikmati fasilitas seperti gaji bulanan, tunjangan kesehatan, pesangon, atau dana pensiun.
Namun tanpa mereka, denyut ekonomi Indonesia akan melambat.
Mereka adalah para pekerja sektor informal, kelompok yang jumlahnya justru mendominasi dunia kerja Indonesia.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari separuh penduduk Indonesia yang bekerja berada di sektor informal. Dalam beberapa tahun terakhir, proporsinya konsisten berada di kisaran 57 persen dari total tenaga kerja. Artinya, dari setiap sepuluh orang yang bekerja, sekitar enam orang menggantungkan hidup pada pekerjaan yang tidak memiliki hubungan kerja formal.
Angka tersebut menunjukkan satu kenyataan yang sering luput dari perhatian. Indonesia bukan hanya digerakkan oleh perusahaan besar atau kawasan industri, tetapi juga oleh jutaan pedagang kecil, petani, nelayan, pengrajin, sopir, tukang servis, pekerja lepas, hingga pelaku usaha mikro yang setiap hari bekerja tanpa kepastian pendapatan.
Ketika Lapangan Kerja Formal Belum Mampu Menampung Semua
Setiap tahun, jutaan penduduk Indonesia memasuki usia kerja. Mereka datang dengan harapan memperoleh pekerjaan yang layak. Namun pertumbuhan lapangan kerja formal tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan jumlah angkatan kerja.
Dalam situasi seperti itu, sektor informal menjadi ruang yang terbuka bagi siapa saja.
Tidak ada proses rekrutmen yang panjang. Tidak ada syarat pengalaman bertahun-tahun. Banyak pekerjaan bahkan bisa dimulai hanya dengan modal keterampilan, jaringan, atau sedikit tabungan.
Karena itulah sektor informal sering disebut sebagai “katup pengaman” perekonomian. Ketika sektor formal tidak mampu menyerap seluruh tenaga kerja, sektor informal hadir sebagai tempat masyarakat menciptakan pekerjaan mereka sendiri.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat bahwa di banyak negara berkembang, sektor informal menjadi penyerap tenaga kerja terbesar karena mampu memberikan kesempatan bekerja bagi kelompok yang sulit memasuki pasar kerja formal.
Fleksibel, tetapi Sarat Ketidakpastian
Di balik kemudahannya, sektor informal menyimpan tantangan besar.
Pendapatan pekerja informal sangat bergantung pada kondisi harian. Ketika pelanggan ramai, penghasilan meningkat. Ketika hujan turun sepanjang hari atau ekonomi sedang lesu, pendapatan bisa langsung merosot.
Tidak sedikit pekerja informal yang hidup tanpa perlindungan sosial. Ketika sakit, mereka tidak hanya kehilangan kesehatan, tetapi juga kehilangan penghasilan.
Pandemi COVID-19 menjadi contoh paling nyata. Saat aktivitas masyarakat dibatasi, jutaan pekerja informal kehilangan pelanggan dalam waktu singkat. Pedagang kaki lima, pengemudi transportasi daring, hingga pekerja harian menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampak perlambatan ekonomi.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa fleksibilitas yang dimiliki sektor informal sering kali dibayar dengan tingginya tingkat kerentanan.
Mengapa Banyak Orang Memilih Sektor Informal?
Tidak semua orang yang bekerja di sektor informal melakukannya karena tidak memiliki pilihan. Sebagian memang memilih jalur tersebut karena menawarkan kebebasan mengatur waktu dan peluang memperoleh penghasilan yang lebih besar dibanding pekerjaan formal tertentu.
Namun bagi sebagian besar lainnya, sektor informal merupakan jalan yang paling realistis untuk bertahan hidup.
Membuka warung kecil, menjadi pedagang keliling, memperbaiki sepeda motor di rumah, atau menjadi pengemudi ojek merupakan cara memperoleh penghasilan tanpa harus menunggu kesempatan kerja yang belum tentu datang.
Dalam konteks inilah sektor informal bukan sekadar pilihan ekonomi, tetapi juga strategi bertahan hidup.
UMKM Menjadi Tulang Punggung Sektor Informal
Sebagian besar pekerja sektor informal berkaitan erat dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia serta menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Meski demikian, mayoritas usaha mikro masih beroperasi secara informal.
Banyak pelaku usaha belum memiliki pencatatan keuangan yang baik, akses pembiayaan dari perbankan, maupun legalitas usaha. Akibatnya, produktivitas mereka sulit berkembang meskipun jumlahnya sangat besar.
Padahal jika usaha-usaha kecil tersebut memperoleh akses terhadap pelatihan, teknologi digital, pembiayaan yang terjangkau, dan pasar yang lebih luas, kontribusinya terhadap perekonomian dapat meningkat secara signifikan.
Bukan Sekadar Memberi Bantuan
Meningkatkan kesejahteraan pekerja sektor informal tidak cukup dilakukan melalui bantuan sosial.
Yang lebih penting adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan mereka naik kelas.
Kemudahan memperoleh modal usaha, pelatihan keterampilan, akses terhadap pemasaran digital, perlindungan jaminan sosial, serta penyederhanaan perizinan merupakan langkah yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan rasa aman bagi para pekerja.
Transformasi digital juga membuka peluang baru. Kini pedagang kecil dapat menjangkau pelanggan melalui media sosial atau aplikasi pesan instan. Sistem pembayaran digital membantu transaksi menjadi lebih mudah. Bahkan usaha rumahan pun dapat menjual produknya ke berbagai daerah.
Dengan dukungan yang tepat, sektor informal bukan hanya menjadi tempat bertahan hidup, tetapi juga menjadi pintu menuju usaha yang lebih mapan.
Menghargai Mereka yang Menopang Ekonomi
Sering kali perhatian kita tertuju pada perusahaan besar, investasi bernilai triliunan rupiah, atau pembangunan kawasan industri.
Padahal kehidupan ekonomi sehari-hari justru bertumpu pada jutaan orang yang bekerja secara mandiri.
Mereka menjual makanan yang kita santap setiap pagi. Mereka memperbaiki kendaraan yang kita gunakan untuk bekerja. Mereka mengangkut hasil panen, menjahit pakaian, memperbaiki rumah, hingga menyediakan berbagai layanan yang kita gunakan setiap hari.
Kontribusi mereka mungkin tidak selalu tercatat dalam laporan keuangan perusahaan besar, tetapi keberadaan mereka membuat roda ekonomi terus berputar.
Karena itu, memandang sektor informal sebagai pekerjaan kelas dua adalah cara berpikir yang sudah seharusnya ditinggalkan.
Sektor informal adalah fondasi penting perekonomian Indonesia. Tantangan sesungguhnya bukan bagaimana mengurangi jumlah pekerja di sektor ini secara instan, melainkan bagaimana memastikan mereka memperoleh kesempatan untuk meningkatkan produktivitas, mendapatkan perlindungan sosial, dan menikmati kesejahteraan yang lebih baik.
Sebab kemajuan sebuah negara tidak hanya diukur dari banyaknya gedung pencakar langit yang berdiri, tetapi juga dari seberapa besar negara mampu menghadirkan pekerjaan yang layak bagi seluruh warganya—termasuk jutaan orang yang setiap hari bekerja di sektor informal.
